Tradisi Adat Jawa : Jangan Menikah Pada 4 Waktu Ini!

Tradisi Adat Jawa : Jangan Menikah Pada 4 Waktu Ini!

Tradisi Adat Jawa : Jangan Menikah Pada 4 Waktu Ini!

Kalau mereka yang sudah mempunyai rencana untuk menikah tentu sangat berharap bahwa pernikahan segera diwujudkan. Bagi mereka keturunan Jawa atau orang yang memegang Tradisi Adat Jawa yang ketat ada anggapan bahwa ada bulan-bulan tertentu yang memang menjadi pantangan untuk melangsungkan pernikahan. Tentu bagi mereka yang hidup jaman sekarang merasa tradisi ini cukup menyulitkan, apalagi bagi mereka yang sudah lama merencanakan pernikahan . Meskipun kamu mungkin tidak yakin benar tentang tradisi ini, tentu tak ada salahnya untuk mengetahuinya kan? Siapa tahu calon pasangan kamu nantinya adalah orang keturunan Jawa yang masih teguh memegang adat Jawa, kamu jadi bisa lebih menghargainya.

Mulud

Bulan pertama yang menjadi pantangan untuk melangsungkan pernikahan adalah bulan Mulud kalau dalam agama Islam adalah bulan Maulud.  Yang menjadi argumen utama adalah kepercayaan Jawa yang bersumber dari Primbon Jawa. Di sini disebutkan bahwa menikah di bulan Mulud akan dapat menyebabkan tidak akan berlangsung lama pernikahan ini karena salah seorang mempelai akan meninggal setelah menikah, menakutkan bukan?

Kematian akan menyebabkan perpisahan dan hilangnya kelengkapan sebuah keluarga.  Namun begitu bisa juga diambil sisi positifnya bahwa kita benar-benar harus bersiap-siap menghadapi hal termasuk kematian seseorang bahkan orang  yang paling dicintai sekalipun.  Jika ini terjadi, tentu kita telah siap menghadapinya. Kematian adalah takdir yang tak dapat diketahui kapan datangnya, jadi tak berarti menikah di bulan selain Mulud tidak mendatangkan kematian. Jadi berfikir positif atas hal ini adalah hal terbaik yang dapat kita lakukan.

Suro

Bulan kedua yang tidak boleh untuk mengadakan ikatan perkawinan adalah bulan Suro. Di bulan ini dianggap bahwa pernikahan tersebut  akan mendatangkan bencana dan keburukan. Banyak hal yang terjadi yang menjadi penyebabnya mungkin berupa pencurian, masalah ekonomi dan berbagai  bencana lainnya.

Bencana memang menjadi masalah besar bagi sebuah keluarga, bencana yang terjadi dapat menghancurkan sebuah kehidupan berkeluarga. Pantangan ini mengingatkan bahwa dalam kehidupan berkeluarga akan selalu menghadapi banyak bencana. Jadi menghindari bencana bukanlah hal yang bijak. Tetapi berusahalah menghadapi bencana dengan persiapan dan kesabaran. Ini berarti bahwa pernikahan yang dilakukan di bulan ini harus benar-benar dipersiapkan secara benar-benar.

Sapar

Bulan ketiga adalah Sapar, di bulan ini pantang bagi orang Jawa melangsungkan pernikahan. Menikah di bulan ini akan mendatangkan masalahpada rumah tangga yang dibentuk. Masalah yang timbul adalah akan menyebabkan rumah tangga mengalami banyak kekurangan dan banyak hutang. Masalah keuangan menjadi masalah yang cukup besar yang dapat mempengaruhi keutuhan sebuah rumah tangga.

Selain sebab di atas,  di bulan Sapar ini juga  ada juga istilah Rebo Wekasan. Waktu ini  akan mendatangkan turunnya bencana penderitaan yang cukup banyak.

Jumadil Awal

Bulan Jumadil Awal merupakan bulan keempat yang menjadi pantangan. Bulan ini merupakan bulan yang penuh fitnah. Di dalam primbon disebutkan bahwa pernikahan yang dilaksanakan di bulan ini akan membuat biduk rumah tangga akan dilingkupi fitnah. Fitnah ini akan membuat keluarga terpecah belah. Kasih sayang yang menjadi dasar membina rumah tangga akan menjadi hilang karena fitnah yang timbul.

Baca juga Mengenal Jumlah Seserahan dari Etnis Jawa, Sunda, dan Tionghoa

Bagi kamu yang tidak terlalu meyakini akan hal ini tentu tidak menjadi masalah. Memang pada dasarnya orang Jawa merupakan orang yang sangat memperhatikan siklus waktu dalam suatu kehidupan seseorang. Jadi pernikahannya pun sangat dikaitkan dengan siklus-siklus waktu yang ada, misalnya hari lahir, nama dan lain-lain.  Hal ini mungkin menyiratkan bahwa bagi orang Jawa persiapan untuk menghadapi segala permasalahan yang timbul perlu dilakukan. Hal ini dibuat dengan melakukan pantangan-pantangan.  Bagi kamu yang nantinya akan menikah dengan orang Jawa tentu sekarang tidak perlu kaget lagi jika akan ada kejadian seperti penundaan pernikahan hanya karena tidak cocok waktunya.

PENJELASAN DETAIL MENGENAI TATA RIAS PENGANTIN JAWA TRADISIONAL

PENJELASAN DETAIL MENGENAI TATA RIAS PENGANTIN JAWA TRADISIONAL

Rias Pengantin Jawa Tradisional

Anda sedang mencari rias pengantin jawa tradisional? Atau anda sedang mempelajari rias pengantin jawa tradisional? Artikel ini akan membahas rias pengantin jawa terbaru dan rias pengantin jawa terbagus guna menambah wawasan tentang tata rias untuk anda para pembaca alienco.net.

Rias pengantin jawa yang bagus merupakan harapan setiap pasang pengantin yang menobatkan adat jawa sebagai tema utama dalam pernikahannya. Rias pengantin adat jawa identik dengan sanggul, kebaya, dan paes ageng pada mempelai wanita, dan pada mempelai pria bertahtakan blangkon dan disematkan keris di pinggang.

Tata rias pengantin jawa untuk pembuatan paes ageng saja membutuhkan  waktu yang lama, paes ageng teah dilukis tipis pada saat malam midodareni, yakni malam dimana mempelai pria bersama rombongan datang kepada keluarga mempelai wanita untuk menyatakan kesiapannya esok hari untuk menjalankan akad nikah.  Riasan cantik mempelai wanita pada malam ini tidak dapat dilihat oleh mempelai pria, hanya kerabat dan sahabatnya yang diperbolehkan untuk melihatnya. Paes akan ditebalkan dan semakin tampak keindahannya pada saat prosesi pernikahan.

Sedangkan untuk rias pengantin jawa tradisional sanggul membutuhkan waktu agar pemasangan sanggul kencang dan tetap nyaman dikenakan oleh sang pengantin wanita. Penggunaan sanggul atau konde pada prosesi pernikahan adat jawa, hampir di setiap prosesi digunakan. Kecuali, pada prosesi siraman yang menghendaki rambut atau kepala mempelai wanita disiram dan dibasahi. Bentuk sanggul pun beraneka ragam, mulai yang berbentuk lingkaran kecil, lingkaran besar, hingga bentuk yang cenderung elips. Pengunaan masing – masing bentuk sanggul disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk acara pesta pernikahan para tamu undangan yang telah menjadi ibu menggunakan sanggul yang lebih besar dibandikan dengan mereka yang masih gadis. Sedangkan untuk sang pengantin wanita, penggunaan sanggul disesuaikan dengan penampilan dirinya.

Wanita yang memiliki wajah berbentuk bulat dalam menggunakan konde atau sanggul biasanya memiliki kepercayaan diri lebih rendah dibandingkan wanita yang memiliki bentuk wajah tirus, lonjong atau yang lainnya. Hal ini disebabkan karena bentuk sanggul yang bulat akan menambah bulat bentuk wajah wanita yang bulat. Untuk mensiasati hal tersebut, rias pengantin jawa yang cocok untuk wajah bulat akan menjadi solusinya. Tata rias pengantin jawa wajah bulat yang baik adalah dengan menegaskan polesan blush on pada tulang pipi dari arah atas ke bawah membentuk garis, hal ini akan membuat effect tirus wajah yang bulat.

Rias pengantin jawa yang cocok untuk wajah bulat lainnya adalah pemilihan bentuk sanggul yang tepat. Sebaiknya wanita berwajah bulat menggunakan sanggul yang berbentuk cenderung elips dan besarnya melebihi bagian belakang kepala. Bentuk sanggul yang besar akan memberikan effect wajah bulat menjadi lebih kecil. Untuk lebih jelasnya anda dapat melihat video tata rias pengantin jawa berikut.

Setelah mengamati detailnya tata rias dalam vidio rias pengantin jawa tentu penjabaran akan semakin jelas. Hal selanjutnya yang akan dibahas adalah berkenaan dengan kebaya. Baju kebaya bukan hanya menjadi identitas wanita jawa, tetapi kebaya telah menjadi identitas wanita bangsa Indonesia yang telah dikenal dunia. Pengunaan detail jenis kebaya berbeda-beda di setiap daerahnya, penggunaan kebaya tersebut melengkapi rias pengantin jawa timur (rias pengantin jawa timur ponogoro, rias pengantin jombang jawa timur, rias pengantin kediri jawa timur, rias pengantin nganjuk jawa timur) dan wilayah lainnya.

Semoga pembahasan tentang  rias pengantin jawa tradisional ini dapat bermanfaat untuk anda semua. [LS]