Yuk Simak Tradisi Prosesi Pernikahan di Koto Gadang!

Yuk Simak Tradisi Prosesi Pernikahan di Koto Gadang!

Yuk Simak Tradisi Prosesi Pernikahan di Koto Gadang!

Kamu pasti sudah pernah membaca artikel Mengabadikan Keunikan Prosesi Pernikahan Adat Minangkabau Ala Alienco ini, kan? Nah sebagai bagian dari Suku Minangkabau, tradisi di Koto  Gadang memiliki banyak kesamaan dengan tradisi yang ada pada Suku Minangkabau termasuk dalam hal ini adalah tradisi pengantin. Prosesi pengantin pada Suku Minangkabau memiliki tatacara yang cukup banyak. Namun demikian, pada adat di Nagari Koto Gadang hal ini dibuat lebih sederhana. Jika ingin lebih tahu mengenai tradisi pernikahan di Koto Gadang, Yuk Simak Tradisi Prosesi Pernikahan Koto Gadang di bawah ini!

Mencari Jodoh

Sebagaimana layaknya pada banyak suku di Indonesia, jodoh bagi seorang gadis lebih ditentukan oleh pihak orang tua ataupun orang-orang yang lebih tua dari kalangan keluarga. Tradisi ini juga berlaku pada Suku Minangkabau. Setelah melihat sang gadis telah menjadi perawan yang telah tiba waktunya untuk menikah maka orangtua dan kerabat yang dituakan di kalangan keluarga si gadis telah bersiap mencari-cari dan memilihkan suami yang akan menjadi pendamping si gadis. Acara ini dilaksanakan secara khusus dengan mengadakan pertemuan dan permusyawaratan di rumah sang ibu. Di sini yang diajak dalam permusyawaratan antara lain ayah dan ibu, mamak-mamak (paman) si gadis dan saudara perempuan ibu lainnya. Pelaksanaan pertemuan khusus ini sengaja dilakukan pada malam hari agar tidak banyak diketahui oleh tetangga ataupun pihak lainnya.

Maresek-resek

Acara ini merupakan langkah penjajakan kepada kedua orang tua calon dari jodoh yang dianggap sesuai. Di sini yang berperan adalah saudara-saudara perempuan ibu dan kerabat dekat lainnya dari pihak perempuan. Acara dilakukan dengan kunjungan ke orang tua calon yang diinginkan untuk dijodohkan. Tentunya tidak secara langsung karena memang di Indonesia ini basa-basi masih sangat berperan. Setelah bertemu dengan kedua orang tua calon jodoh yang diharapkan, maka diadakan percakapan-percakapan yang bersifat silaturahmi dan saling menanyakan kabar. Dilanjutkan dengan bincang-bincang ringan, dan selanjutnya dilanjutkan dengan acara inti yaitu menyampaikan keinginan melakukan perjodohan anak gadis dengan anak laki-laki tuan rumah.

Ma Antakan Tando

Jika kedua orang tua calon jodoh menerima dan menyambut baik langkah perjodohan ini maka akan dilakukan acara selanjutnya yaitu pertemuan dengan kerabat lain yang lebih banyak. Dalam acara ini diharapkan hadir adalah mamak-mamak, orang Sumando, mak dang, Etek, Bako dan Ipa-Bisan lainnya yang mungkin belum tahu tentang hal ini. Di sini disampaikan hasil dari pertemuan dengan calon jodoh laki-laki. Setelah itu dibuatlah persiapan untuk melakukan acara Ma Antakan Tando yaitu memberi antara sebagai tanda perjodohan. Di suku Minangkabau ini yang berperan aktif dalam hal ini adalah dari pihak perempuan. Sedangkan dari pihak keluarga besar calon jodoh melakukan persiapan menyambut kedatangan pihak wanita. Hal ini dilakukan melalui musyawarah dengan keluarga besar lainnya dari pihak laki-laki.

Upacara Pernikahan

Lazimnya pernikahan dilakukan pada siang hari sebelum waktu sholat dzhuhur. Acara dilaksanakan di kediaman pengantin wanita. Sebelum sampai di acara pernikahan (akad nikah), dilakukan penjemputan calon pengantin laki-laki oleh utusan dari keluarga wanita. Utusan ini dibekali dengan berbagai perangkat bawaan diantaranya Boko (kotak) yang berisi pilih pan japuik. Ini merupakan simbol dari adat penjemputan. Pada acara ini di sediakan uang sebesar Rp 10.000. Dari uang ini separuh diberikan kepada Kekerabatan Anak nagari dan separuh lagi diberikan kepada orang tua pengantin laki-laki. Tak lupa disertakan carano (dulang) sirih lengkap yang merupakan bawaan yang tak boleh dilupakan. Kelengkapan lainnya adalah uang logam Rp 100 an sebanyak 10 buah dan Rp 1000an sebanyak 10 buah. Untuk mahar biasanya diberikan seperangkat alat sholat yang dibawa oleh Anak Mamak.

Menjemput Calon Pengantin Pria

Sebagai bagian terpenting dalam tradisi upacara pernikahan di Koto Gadang adalah acara penjemputan pengantin. Rombongan penjemput dari pengantin wanita ini datang ke tempat pengantin laki-laki untuk melakukan upacara penjemputan. Setelah sampai di tempat pengantin pria, maksud kedatangan rombongan ini disampaikan oleh utusan yang mendapat tugas khusus dari Niniak Mamak pengantin wanita. Di sini disampaikan bahwa kedatangan mereka beramai-ramai ini tak lain dan tak bukan adalah melakukan penjemputan pengantin wanita. Tak lupa juga rombongan ini membawa barang-barang yang telah disiapkan. Setelah penyampaian maksud kedatangan, barang-barang bawaan ini diserahkan untuk diterima dan dicek oleh pihak pengantin pria. Saat ini acara pemeriksaan ini biasanya bersifat formalitas, dan setelah diterima baik dan dianggap telah terpenuhi syarat yang diinginkan oleh pihak pengantin wanita barulah rombongan diperbolehkan membawa calon pengantin pria ini. Selain dari rombongan penjemput, keluarga pihak  pengantin pria juga menyertakan rombongan pengantar yaitu orang tua, mamak, bako dan keluarga lainnya yang dihormati.

Simak juga nih Sentuhan Adat Dalam Sesi Foto Prewedding

Sesampainnya di rumah Anak Daro rombongan penjemput dan pengantar calon pengantin ini. Kemudian Bako (keluarga dari pihak ayah) mempersilakan Marapulai yaitu pengantin laki-laki dan pengantarnya yang terdiri dari laki-laki ditempatkan di ujung rumah. Di dalam rumah penghulu dan kerabat pengantin wanita telah bersiap menyaksikan acara pernikahan ini.

Akad Nikah

Karena agama Islam merupakan agama mayoritas dan hampir sebagian besar suku Minangkabau beragama Islam, maka pernikahan dilakukan mengikuti tradisi syariat Islam. Kedua pengantin dihadirkan tetapi di sini tidak disandingkan. Hal ini berbeda dari masa lalu dimana pengantin wanita tidak menghadiri acara akad ini tetapi diwakili oleh ayah. Sedangkan mahar yang sekarang menjadi favorit sebagai syarat pernikahan adalah seperangkat alat sholat. Setelah semua siap barulah penghulu melaksanakan akad nikah sebagaimana telah ditentukan dalam syariat Islam.

Acara selanjutnya adalah makan Bajamba, di sini semua yang hadir membuat lingkaran. Biasanya terdiri dari 5-6 orang. Makanan disediakan untuk setiap lingkaran yang ada, makanan diletakkan di bagian tengah dan kemudian disantap bersama-sama oleh semua hadirin. Hidangan yang umum disajikan adalah Lauak Kadang, Bibia, Bulai Bubadak juga tak lupa karabu randang. Pada acara ini tamu selain makan juga melakukan percakapan-percakapan yang mengakrabkan kedua belah pihak. Setelah semua menikmati hidangan yang disediakan dan makan minum telah selesai acara ini ditutup dengan doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan.

Batandang

Acara berikutnya merupakan acara khusus bagi kedua pengantin. Pada kira-kira jam 19.00 atau jam 20.00 ini kedua pengantin datang ke rumah Bako. Di sini telah hadir undangan yang khusus diberikan kepada anak-anak muda yang akan menemani Anak Daro (pengantin wanita) dan Marapulai (pengantin pria). Biasanya dilakukan perbincangan-perbincangan sambil bercanda dan bersenda gurau ala anak muda. Tak lupa juga dihidangkan makanan dan minuman untuk menemani tamu dan kedua pengantin. Baju khusus untuk acara ini adalah baju Suto yaitu baju yang dibuat dari kain sutra sebagai baju resmi acara batandang ini.

Selanjutnya pada esok hari, kedua orang tua dari marapulai melakukan penjemputan Anak Daro dan meminta mereka mau datang berkunjung pada malam harinya. Di sini juga diadakan acara yang sama seperti yang dilakukan di rumah Bako sebelumnya, kedatangan mereka disambut oleh anak-anak muda yang merupakan teman-teman dekat dari pengantin pria yang akan menemani kedua pengantin.

 

Nah demikianlah acara pernikahan di Nagari Koto Gadang. Jadi jika nantinya kamu mendapat jodoh dari sana, kamu sudah dapat membayangkan apa yang akan kamu laksanakan nanti.

Halo! Klik dibawah ini untuk melakukan chat via WhatsApp dengan Renny.

Chat dengan kami via WhatsApp