Tradisi Pengantin di Jawa Barat, Berikut Ulasannya!

Tradisi Pengantin di Jawa Barat, Berikut Ulasannya!

Tradisi Pengantin di Jawa Barat, Berikut Ulasannya!

prosesi saweran dalan acara pernikahan adat sunda jawa barat alienco photography
@aliencophoto

Negara yang kaya akan budayanya itulah Indonesia. Dengan berbagai macam budaya dan beribu-ribu tradisi adat istiadat. Satu di antaranya yaitu ragam indah dalam tradisi pernikahan. Tradisi budaya pengantin di Jawa Barat termasuk dalam tradisi pernikahan di Indonesia. Daerah Pamarican Banjarsari Jawa Barat berlokasi di perbatasan antara Jawa Barat dengan Jawa Tengah.  Perpaduan bahasa yang sangat kental antara sunda dan jawa sangat terasa di daerah ini. Karena itu, mayoritas penduduknya mengerti dan bisa berbahasa tersebut. Menjadikan penduduk Jawa maupun Sunda sama satu dengan yang lainnya  tidak ada pembeda. Daerah ini juga cukup menggambarkan kondisi Indonesia yang beragam namun tetap satu jiwa Indonesia.

Pamarican Banjarsari Jawa Barat memiliki rasa kekeluargaan, kekerabatan yang hangat terjaga dan terus diwarisi oleh anak cucunya. Saling bersapaan saat berjumpa, hal ini banyak ditemui saat anak-anak kecil. Mereka saling menyapa dengan teman sebayanya bila bertemu walau selintas saja.

Tidak hanya karakter masyarakatnya yang santun hingga menjadi ketertarikan di Pamarican Banjarsari ini. Tradisi budaya pengantin pernikahannya pun tak kalah menariknya untuk dibahas. Berikut ini adalah beberapa hal-hal unik yang ada dalam tradisi pernikahan di Jawa Barat.

Undangan

Pamarican Banjarsari Jawa Barat yang unik pertama yaitu mengenai bentuk undangannya. Pada umumnya undangan berbentuk kertas yang di dalamnya berisi informasi tentang acara pernikahan. Tetapi, di masyarakat jawa khususnya daerah Pamarican uniknya undangan itu berbentuk sesuatu yang dapat dimakan atau dinikmati. Seperti rokok, kopi, maupun mie instan. Dengan lampiran sepucuk kertas kecil yang bertuliskan nama pengantin, tanggal dan waktu resepsi pernikahan.

Tak lupa alamat dan orang tua pengantin pada kemasan makanan tersebut. Dibandingkan dengan undangan pada umumnya yang setelah dibaca lalu dibuang. Masyarakat Pamarican lebih memilih undangan dengan bentuk yang lebih bermanfaat dan berguna bagi semua orang.

Sinoman

Tradisi dimana para ibu membantu memasak untuk tetangganya yang akan melaksanakan hajatan, disebut dengan sinoman.  Dimulai tiga hari sebelum acara pernikahan dilaksanakan hingga pada hari pernikahan berlangsung. Dengan membawa bahan makanan yang dibutuhkan untuk hajatan. Seperti beras, tempe, bihun, mie instan dan apapun itu yang bermanfaat bagi pemilik hajat. Pada waktu salat datang, para ibu yang melakukan sinoman biasanya istirahat pulang kerumahnya masing-masing. Dengan membawa kue, nasi dan lauk pauk atau dikenal sebagai makanan berkat. Dengan adanya tradisi sinoman ini menjadikan masyarakat Pamarican kompak dan saling tolong menolong.

Cara Kondangan

Umumnya saat kondangan kita membawa karangan bunga ataupun kado. Di desa Pamarican para ibu membawa bahan-bahan makanan mentah pada saat sinoman, yang sudah menjadi tradisinya. Pada umumnya juga sepasang suami istri saat kondangan hanya dalam satu amplop uang bersama.

Namun beda hal nya dengan masyarakat desa Pamarican, dimana sang istri membawa bahan makanan mentah dan sang suami kondangan dalam bentuk uang. Unik nya pada saat amplop sudah diterima oleh pengelola uang yang ada di pernikahan tersebut. Setiap amplopnya langsung dibuka dan dicatat berapa nominal uangnya dan nama pemberinya.

Terakhir adalah keramaian saat resepsi pernikahan berlangsung. Untuk kamu yang membawa anak kecil saat pergi kondangan di daerah Pamarican Banjarsari. Jangan lupa siapkan uang yang cukup untuk membelikan mereka jajanan. Bukan hanya dipadati oleh tamu undangan saja, tetapi aneka tukang jajanan pun berderet memenuhi tempat layaknya pasar malam.

Baca juga,

Perbedaan Upacara Panggih Jogja dan Panggih Solo

Jadi itulah hal-hal unik dalam Tradisi Budaya Pengantin di Jawa Barat: Pamarican Banjarsari Jawa Barat yang menjadi salah satu di antara kekayaan Indonesia. Kekayaan budaya yang harus tetap dijaga dan lestari agar tetap ada dan menjadi warisan budaya Indonesia.