Tradisi Pengantin Depok “Semarak Petasan”

Tradisi Pengantin Depok “Semarak Petasan”

Tradisi Pengantin Depok “Semarak Petasan” 

Tradisi pengantin Depok sangat banyak dan beragam. Kota Depok yang letak geografinya berada dekat sekali dengan Ibu Kota DKI Jakarta, namun masuk dalam area Jawa Barat menyebabkan Depok memiliki tradisi serapan, baik dari adat Betawi (DKI Jakarta) maupun adat Sunda (Jawa Barat). Namun budaya adat Betawi lebih dominan mempengaruhi budaya masyarakat Depok. Begitu pula pada tradisi dalam pernikahan di Kota Depok.

Menjelang hari pernikahan H-7, keluarga mempelai wanita tengah disibukan dengan persiapan masak memasak. Masakan yang dapat tahan lama telah dimasak sejak jauh-jauh hari, seperti menggoreng kerupuk, membuat kentang pengantin, menggoreng ikan asin, membuat aneka kue betawi (tape uli, dodol, wajik, geplak, dan lain-lain).  Seluruh keluarga besar mempelai wanita berkumpul bahu membahu saling membantu memasak. Semakin mendekati hari H, maka masakan semakin penuh tersedia. Hal ini, membuat kekerabatan pada masyarakat betawi Depok lebih kuat karena kekompakan mereka semakin teruji. Bahkan tidak jarang, para kerabat menginap untuk meramaikan dan membantu satu minggu yang membahagiakan.

Pada malam hari  yaitu satu hari sebelum hari pernikahan yang sering masyarakat Betawi Depok sebut sebagai malam rowahan, saudara dan kerabat datang untuk kondangan. Biasanya para ibu-ibu membawa bahan makanan mentah atau kue sebagai hadiah untuk membantu resepsi pernikahan. Tradisi pengantin Depok ini, tetap dijaga meskipun banyak tradisi luar yang datang kepada masyarakat Depok. Yang tidak lekang oleh waktu pada tradisi pengantin di Depok adalah meriahnya petasan.

Petasan adalah symbol suka cita, keceriaan dan rasa bahagia. Pada tradisi pengantin Depok, semarak petasan turut memeriahkan dan mengambil porsi dalam pernikahan. Tepatnya, petasan dengan panjang bermeter-meter dan terus-menerus berdentum akan terdengar saat pihak mempelai laki-laki datang ke pihak mempelai perempuan. Biasanya pihak mempelai laki-laki dua kali datang kepada pihak mempelai  perempuan. Kedatangan pertama yaitu pada saat kedatangan mempelai laki-laki dan keluarga untuk menikah, atau dikenal dengan besan nikah. Petasan akan berbunyi menandakan besan nikah telah datang di tempat mempelai perempuan, selain itu bunyi petasan juga akan terdengar pada saat ijab qabul selesai diucapkan pengantin laki-laki.

Kedatangan pihak mempelai laki-laki yang kedua biasanya pada sore hari yakni ba’da ashar, kedatangan ini untuk kondangan. Pihak laki-laki mengumpulkan sejumlah uang untuk diberikan pada pihak mempelai perempuan. Dana yang dikumpulkan ini dikenal dengan kondangan bantuin besan. Pada saat itu, petasan yang bederet panjang juga berbunyi kencang, seolang mengabarkan kepada semesta alam kebahagiaan dan kecerian pengantin dengan kehadiran keluarga besar.  Pada zaman dahulu, petasan masyarakat betawi gunakan sebagai informasi kepada masyarakat kampung maupun antar kampung untuk mengabarkan bahwa tengah dilaksanakan pesta pernikahan dan bunyi semarak petasan betawi tersebut merupakan undangan. Petasan dirasa sebagai alat yang efektif untuk mengundang karena suara gemuruh dan berisik nya yang mampu terdengar dari jarak kejauhan. Petasan sendiri, pada awalnya merupakan hiburan bagi Warga Negara Indonesia yang berasal dari  Tionghoa (Cina). Petasan mampu meredam kerinduan mereka pada daerah asal mereka. Selain itu, petasan mampu mengundang orang untuk menonton dan dijadikan hiiburan.

Tradisi pengantin Depok semoga akan mampu mempertahankan eksistensinya walau banyak tradisi lain yang masuk wilayahnya. Sehingga semarak petasan akan tetap bertahan dalam setiap pesta pernikahan walaupun teknologi dan perkembangan zaman telah jauh melangkah ke depan. Sekian info artikel  Tradisi Pengantin Depok “Semarak Petasan” semoga bermanfaat, menambah wawasan dan membantu melestarikan budaya. [LS]

Artikel Terkait