Arti di Balik Pasang Padi atau Tuwuhan di Dalam Prosesi Siraman

Arti di Balik Pasang Padi atau Tuwuhan di Dalam Prosesi Siraman

Arti di Balik Pasang Padi atau Tuwuhan di Dalam Prosesi Siraman

Pasang Padi atau Tuwuhan di Dalam Prosesi Siraman. – Sudah tidak asing rasanya jika membahas tentang tradisi pernikahan yang dimiliki oleh Indonesia. Banyaknya suku dan budaya membuat Indonesia kaya akan keragaman tradisi yang unik dan menarik sekali untuk dibahas. Salah satunya adalah tradisi Adat Jawa.

Suku Jawa merupakan suku dengan banyaknya tradisi dan berbagai prosesi yang dimiliki, termasuk juga dalam tradisi pernikahan. Bahkan, saking banyaknya prosesi, prosesi pranikah pun ada lho, yaitu Siraman. Jika membahas tentang prosesi siraman pun akan banyak sekali topik menarik, seperti pasang padi atau tuwuhan.

contoh foto siraman jawa modern jasa tengah yogyakarta
Alienco Photography

Pasang Padi atau Tuwuhan di Dalam Prosesi Siraman ini memiliki makna dan filosofinya lho. Masyarakat Jawa menggambarkan tumbuhan padi sebagai lambang kehidupan pokok. Secara umum, masyarakat Jawa di pedesaan juga banyak yang bertani, sehingga padi adalah sumber kehidupan mereka. Padi juga dianggap memiliki kaitan dengan Dewi Sri yang merupakan Dewi Rumah Tangga dan Dewi Kesuburan. Melalui simbol padi, orangtua disini mengharapkan kehidupan yang bahagia dari kedua mempelai tersebut.

Arti Pasang Padi atau Tuwuhan di Dalam Prosesi Siraman

Setelah sebelumnya kami membahas Makna Dari Pemasangan Bleketepe, prosesi selanjutnya adalah pasang padi atau tuwuhan ini. Tuwuhan memiliki arti tumbuh, yang berisi pengharapan agar kedua pengantin dapat tumbuh dan berbahagia dalam rumah tangganya. Pasang padi atau tuwuhan ini biasanya ada di pintu masuk tempat siraman. Adapun tumbuh-tumbuhan di tuwuhan ini beragam dan artinya pun berbeda masing-masing tumbuhannya. Diantaranya :

  • Pisang Raja Matang

Buah pisang ini sebagai harapan agar calon pengantin sudah mantap dan matang untuk berumah tangga. Pisang ada berbagai macam, dan pisang raja dipilih agar calon pengantin memiliki kemuliaan hati yang seperti raja.

  • Kelapa Cengkir Gadhing 

Sebagai simbolisasi untuk rahim atau kesuburan. Cengkir sendiri merupakan singkatan lho, yaitu kecengin pikir atau persetujuan. Hal ini berarti kedua orangtua mempelai telah menyetujui pernikahan kedua pengantin.

  • Bambu Wulung

Dipilih karena bentuknya lurus,  hitam dan kuat. Bambu Wulung ini nantinya digunakan sebagai penyangga gapura tarub, sebagai lambang dari kekuatan dan kelestarian keluarga.

  • Tebu Wulung

Tumbuhan tebu manis ini dipilih yang berwarna merah, sebagai simbol dari rumah tangga yang menyenangkan. Wulung atau sepuh, memiliki arti agar kedua pengantin memiliki hati yang bijaksana.

  • Janur Kuning

Penjelasan Janur Kuning bisa disimak di Kisah : Asal-Usul & Tutorial Janur Kuning Pernikahan

  • Daun Kluwih

Melambangkan kelebihan, sebagai harapan agar kedua pengantin diberi kelebihan ilmu karena mengutamakan Tuhan.

  • Daun Andong

Dipilih karena terlihat tegar, dan bisa meluruskan batangnya yang bengkok. Daun Andong ini diharapkan agar kedua pengantin dapat meluruskan sifat atau perilaku mereka yang masih bengkok.

  • Daun Girang

Karena warnanya yang cerah dan bersih, Daun Girang ini dipilih karena melambangkan harapan agar mempelai dapat selalu berbahagia.

  • Daun Alang-alang

Sebagai harapan agar kedua pengantin mampu mengatasi dan bertahan dari segala rintangan dalam kehidupan rumah tangga mereka.

  • Daun Opo-opo

Harapan agar selama acara berlangsung akan lancar dan tanpa halangan.

  • Daun Beringin

Sebagai lambang bagi pelindung keluarga.

  • Padi

Harapan agar kedua pengantin selalu diberikan kecukupan dalam kebutuhan pangan dan selalu makmur.

Demikian Arti di Balik Pasang Padi atau Tuwuhan di Dalam Prosesi Siraman, yang banyak mengandung makna, semoga ini dapat menambah wawasan pengetahuan kita semua ya!

Perbedaan Pernikahan Adat Jawa Solo Dengan Adat Jawa Jogja

Perbedaan Pernikahan Adat Jawa Solo Dengan Adat Jawa Jogja

Perbedaan Pernikahan Adat Jawa Solo Dengan Adat Jawa Jogja

Perbedaan Pernikahan Adat Jawa Solo Dengan Adat Jawa Jogja. – Indonesia dengan berbagai macam etnisnya memberikan keberagaman budaya bagi bangsa ini. Setiap daerah yang ada di Indonesia memiliki kebudayaan dan adat istiadat yang berbeda- beda, hal inilah yang mengakibatkan setiap ritual yang ada di daerah satu berbeda dengan didaerah yang lainya. Tak terkecuali dalam hal upacara pernikahan. Walau hampir satu rumpun, tahukah anda bahwa antara daerah solo dan daerah Jogja memiliki budaya pernikahan yang sudah berbeda. Meski satu rumpun, Pernikahan Adat Solo dan Adat Jogja memiliki beberapa perbedaan dalam pelaksanaan pernikahannya. Pernikahan Adat Jawa penuh dengan konsep unik dan menarik untuk diketahui, lho!

Meski satu Etnis Jawa dan tempatnya juga hampir berdekatan, antara pernikahan Adat Jawa Solo dengan pernikahan adat Jawa Jogja memiliki perbedaan yang cukup signifikan jika dilihat dari ritual yang harus dijalani calon mempelai. Solo dan Jogja dapat dikatakan menjadi sentral acuan untuk budaya Jawa. Di Solo dan Jogja inilah berdiri kraton peninggalan dari raja-raja Jawa tempo dulu. Meskipun pada mulanya adalah satu, namun dalam perkembangan selanjutnya terjadi pemisahan. Ini juga terjadi dalam cabang-cabang budaya yang mengikutinya seperti halnya ritual pernikahan. Meskipun ada banyak kemiripan, namun kedua budaya ini mempunyai beberapa perbedaan juga.

Dari pada penasaran, berikut ini kami paparkan perbedaan ritual pernikahan adat Jawa Solo dengan pernikahan adat Jawa Jogja :

Pertama, pada pernikahan adat Jawa Solo ada upacara yang dinamakan dengan tradisi potong rambut dan Dodol Dawet (dodol (bahasa Jawa) = jualan). Sementara itu di pernikahan adat Jawa Jogja tidak ada namanya tradisi potong rambut atau Dodol Dawet (jualan dawet). Setelah melakukan siraman pengantin langsung diteruskan dengan tradisi Dulangan.

Yang kedua, perbedaan yang mencolok lainya adalah ketika malam “midodareni”. Dalam pernikahan adat Jawa Solo terdapat tradisi yang dinamakan ‘upacara jual beli kembang mayang’. Sedangkan untuk pernikahan adat Jawa Jogja, kembang Mayang sudah dipersiapkan sejak sore sebelum dilakukanya acara Malam Midodareni.

Ketiga,  perbedaan lainya dapat anda temui pada pelaksanaan Panggih. Untuk upacara lempar sirih pada pelaksanaan panggih pernikahan adat Jawa Solo hanya melakukannya satu kali pelemparan saja. Baik itu dari mempelai wanitanya atau mempelai perempuannya. Sementara dalam pernikahan adat Jawa Jogja bagi seorang pria harus melempar 4 sirih, dan wanitanya melempar 3 linting daun sirih.

Nah yang keempat adalah pada saat ritual pecah telur. Dalam ritual ini pengantin pria menginjak telur yang sudah disiapkan lalu kaki yang menginjak tersebut dicuci oleh pengantin wanita, ini dilakukan pada gaya Solo. Sedangkan untuk gaya Jogya, pengantin wanita mencuci kaki pengantin pria lebih dulu. Kemudian telur yang telah disiapkan tidak diinjak oleh pengantin pria melainkan hanya disentuhkan pada kening kedua pengantin tersebut baru dipecah oleh perias.

Baca juga Urutan Lengkap Upacara Panggih, Ritual Khas Pernikahan Jawa

Selanjutnya urutan kelima, untuk menuju ke pelaminan setelah acara panggih selesai kedua pengantin  langsung menuju ke pelaminan dengan didampingi kedua orang tua pada ritual gaya Jogja. Nah kalau pada gaya Solo sang  ibu pengantin wanita menyelimutkan sindur atau selendang kemudian kedua pengantin dipandu menuju pelaminan oleh ayah dan ibu pengantin wanita ini.

Serta yang keenam, untuk prosesi kacar-kucur pada gaya Solo diadakan ritual timbangan (ayah pengantin wanita memangku kedua mempelai). Ada juga ritual tandur (ayah pengantin wanita mendudukkan pengantin, tanda restu telah diberikan). Serta upacara dahar klimah (pengantin makan sendiri-sendiri) dilanjutkan dengan ritual ombe rujak degan.  Untuk gaya Jogja, ritual timbangan tidak diadakan, tetapi ada ritual tampa kaya (wanita menerima barang-barang dari pengantin pria). Pada ritual dhahar klimah, makanan hanya disuguhkan kepada pengantin wanita). Sedangkan upacara ombe rujak degan tidak ditemui di pernikahan adat Jawa Jogja.

Perbedaan yang terakhir, yaitu untuk busana, pada adat Solo pengantin pria menggunakan baju beskap langenharjan. Kemudian juga dilengkapi blankon dan batik wiron dengan motif Sidoasih prada. Pengantin wanita memakai  kebaya panjang klasik berbahan bludru hitam, dilengkapi dengan sulaman benang keemasan dengan motif kembang.  Sedangkan pada pengantin Jogja pengantin wanita mengenakan baju dodot atau kampuh dengan hiasan khusus. Sedangkan pengantin pria memakai kuluk untuk penghias kepala, ukel ngoro dengan sisir dan cundhuk mentul yang kecil.

 

Sekarang anda sudah tahu bukan? Perbedaan Pernikahan Adat Jawa Solo Dengan Adat Jawa Jogja. Sekian dulu ulasan dari kami, semoga bermanfaat.

 

 

Mau Tahu Tata Cara Tradisi Pernikahan Adat Jawa Tengah?

Mau Tahu Tata Cara Tradisi Pernikahan Adat Jawa Tengah?

Tradisi Pernikahan Adat Jawa Tengah

Setiap daerah yang ada di Indonesia pasti memiliki adat istiadat pernikahan yang unik. Meski daerah satu dengan daerah lain memiliki perbedaan tatacara dalam menyelenggarakan pernikahan, namun esinsi/ inti dari pernikahan setiap daerahnya sama.

Jawa Tengah Ternyata Memiliki Budaya Pernikahan Yang Unik

Inilah Tradisi Pernikahan Adat Jawa Tengah :

Salah satu daerah yang memiliki ciri khas budaya dalam pernikahanya adalah Jawa Tengah. Memiliki ritual tersendiri, tradisi pernikahan adat Jawa Tengah sangatlah khas dan jarang anda bisa temui di daerah- daerah lain. Untuk lebih jelasnya, berikut tata cara pernikahan yang ada di Jawa Tengah.

  1. Midodareni

    kumpulan foto persiapan pernikahan malam midodareni
    alienco

Midodadareni adalah acara silaturrahmi serta perkenalan antara keluarga calon mempelai. Disana nantinya ada pembicaraan antar sesepuh keluarga mengani pernikahanputra/ putri calon mempelai mereka.

  1. Upacara Injak Telur

Upacara Injak Telur ini mengandung makna agar pengantin wanitanya segera memiliki keturunan. Pasalnya upacara injak telur ini sangat diidentikkan dengan pecah wiji dadi.

  1. Sikepan Sindur

Sikepan sindur ini dilakukan oleh ibu pengantin wanita. Sementara makna dari upacara ini adalah dengan sindur diharapkan mereka akan semakin erat karena dipertemukan/ dipersatukan oleh sang ibunda.

  1. Acara Pangkuan

Acara ini biasa juga disebut dengan ungkapan timbang bobot. Pada ritual ini pengantin laki-laki akan duduk di paha sebelah kanan sang ayah dan untuk pengantin wanitanya akan duduk disebalah kiri paha sang ayah pengantin wanita. Lalu sang ayah akan di tanya oleh ibu, mana diantara keduanya yang paling berat! Maka ayah akan menjawab sama berat.

  1. Kacar Kucur

    contoh foto siraman jawa modern jasa tengah yogyakarta
    alienco

Upacara ini memberikan gambaran betapa sulitnya mencari nafkah dalam kehidupan rumah tangga yang dilambangkan dengan biji-bijian, beras kuning, dan uang recehan yang semuanya akan diberikan kepada sang ibu. Pemberian kepada sang ibu ini melambangkan mereka selamanya tidak akan pernah lupa kepadanya.

  1. Dulang-Dulangan/ Dahar Klimah

Kedua mempelai akan saling suap- suapan sebanyak 3 kali lalu dilanjutkan dengan minmu air putih.

 

Itulah beberapa rangkain Tradisi pernikahan adat Jawa Tengah yang sobat harus tahu, semoga informasi ini bermanfaat. Terimakasih. Alienco.net