Info Lengkap Busana Pengantin Pernikahan Adat Koto Gadang

Info Lengkap Busana Pengantin Pernikahan Adat Koto Gadang

Info Lengkap Busana Pengantin Pernikahan Adat Koto Gadang

Busana Pengantin Adat Koto Gadang. – Kalian mungkin sudah banyak melihat pernikahan dengan konsep adat kan? Karena hingga kini masih banyak pasangan pengantin yang memilih menggunakan konsep tradisional adat daerah mereka sebagai konsep pernikahannya. Pernikahan Adat Jawa, Adat Sunda, Adat Batak merupakan beberapa contoh prosesi adat yang sering digunakan, selain itu ada juga prosesi pernikahan dengan Adat Minang. Pada pernikahan adat tentu yang sangat menarik adalah busana pengantinnya. Setiap adat memiliki ciri khas dan makna pada tiap busananya.

Seperti contoh pada Adat Minang, di kepala pengantin wanita terdapat hiasan kepala berupa tiara yang tersusun dari barisan sunting. Namun, ternyata ranah Minang, tepatnya Sumatera Barat, tidak hanya memiliki satu adat pernikahan saja lho! Selain Adat Minang tepatnya Padang Pesisir, ada pula sebuah konsep pernikahan Koto Gadang. Oiya, jika secara geografis, busana Adat Minangkabau biasanya untuk pengantin yang berasal dari Padang Pesisir. Sedangkan Koto Gadang merupakan wilayah yang berada di dataran tinggi Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Mungkin kamu pernah membaca artikel Tradisi Prosesi Pernikahan di Koto Gadang! kan?  Nah kali ini Alienco akan berbagi informasi mengenai busana pengantin Koto Gadang. Supaya kalian tidak bingung membedakan busana pengantin Adat Minangkabau dan Adat Koto Gadang.

Busana Pengantin Pria

Untuk busana pengantin pria atau bisa juga dipanggil marapulai, mereka akan memakai Baju Gadang atau bisa disebut Baju Roky. Warnanya dipilih yang senada dengan busana pengantin wanita. Biasanya menggunakan kain yang bernuansa keemasan. Warna emas tersebut juga bisa dipadukan dengan warna lain, entah itu emas-putih, emas-ungu, emas-biru, dan sebagainya. Yang jelas warna emas yang selalu ada. Baju Gadang dipasangkan dengan celana panjang yang longgar, juga dengan warna yang senada. Untuk melengkapi penampilannya, biasanya akan ada balapak digunakan sebagai kain samping. Juga dengan keris yang diselipkan di pinggang pengantin pria.

Busana Pengantin Wanita

Jika pada busana pengantin Adat Minangkabau pengantin wanita menggunakan tiara di atas kepalanya, pada busana pengantin wanita Koto Gadang berbeda. Pengantin wanita Koto Gadang akan mengenakan penutup kepala sederhana yang terbuat dari beludru dengan sulam emas berupa selendang, atau biasa disebut Tengkuluk Talakuang. Untuk bajunya, pengantin wanita akan menggunakan baju kurung berbahan beludru Batabua. Pada kain beludru tersebut juga bertabur beberapa kalung emas, yaitu kalung dukuah, kalung cakiek, juga kalung keroncong, bahkan juga kalung dirham. Seperti pada pengantin pria, kain bapalak juga digunakan oleh pengantin wanita. Namun tidak disamping, pada pengantin wanita kain tersebut digunakan sebagai selendang yang disampirkan di bahu.

Untuk aksesoris, pengantin wanita akan mengenakan beberapa perhiasan. Gelang yang disebut garobah dengan ukuran besar beserta gelang-gelang kecil sebagai pelengkap yaitu gelang marjan, gelang pilin kepala bunting dan kareh emas. Memiliki khas pernak-pernik berwarna keemasan, pada jemari pengantin wanita Koto Gadang akan memakai beberapa cincin. Seperti cincin mato tujuh, cincin mato lima, cincin kankuang, cincin mato berlian, dan cincin belah rotan. Mato atau mata, merupakan hiasan yang terdapat pada cincin tersebut.

Berikut beberapa foto pengantin dengan busana Koto Gadang yang pernah Alienco abadikan :

 Busana Pengantin Adat Koto Gadang

 Busana Pengantin Adat Koto Gadang

 Busana Pengantin Adat Koto Gadang

Unik banget kan? Nggak hanya busana pengantin Koto Gadang aja lho. Busana pengantin dengan konsep tradisional dan adat lainnya juga unik dan sangat menarik untuk disimak, tentu saja juga dilestarikan. Nah sekian artikel kali ini, selanjutnya Alienco akan bahas mengenai busana pengantin yang lain! Ditunggu ya!

Foto pernikahan adat lain? Bisa cek ke instagram @aliencophoto

Yuk Simak Tradisi Prosesi Pernikahan di Koto Gadang!

Yuk Simak Tradisi Prosesi Pernikahan di Koto Gadang!

Yuk Simak Tradisi Prosesi Pernikahan di Koto Gadang!

Kamu pasti sudah pernah membaca artikel Mengabadikan Keunikan Prosesi Pernikahan Adat Minangkabau Ala Alienco ini, kan? Nah sebagai bagian dari Suku Minangkabau, tradisi di Koto  Gadang memiliki banyak kesamaan dengan tradisi yang ada pada Suku Minangkabau termasuk dalam hal ini adalah tradisi pengantin. Prosesi pengantin pada Suku Minangkabau memiliki tatacara yang cukup banyak. Namun demikian, pada adat di Nagari Koto Gadang hal ini dibuat lebih sederhana. Jika ingin lebih tahu mengenai tradisi pernikahan di Koto Gadang, Yuk Simak Tradisi Prosesi Pernikahan Koto Gadang di bawah ini!

Tradisi Prosesi Pernikahan di Koto Gadang

Mencari Jodoh

Sebagaimana layaknya pada banyak suku di Indonesia, jodoh bagi seorang gadis lebih ditentukan oleh pihak orang tua ataupun orang-orang yang lebih tua dari kalangan keluarga. Tradisi ini juga berlaku pada Suku Minangkabau. Setelah melihat sang gadis telah menjadi perawan yang telah tiba waktunya untuk menikah maka orangtua dan kerabat yang dituakan di kalangan keluarga si gadis telah bersiap mencari-cari dan memilihkan suami yang akan menjadi pendamping si gadis.

Acara ini dilaksanakan secara khusus dengan mengadakan pertemuan dan permusyawaratan di rumah sang ibu. Disini yang diajak dalam permusyawaratan antara lain ayah dan ibu, mamak-mamak (paman) si gadis dan saudara perempuan ibu lainnya. Pelaksanaan pertemuan khusus ini sengaja dilakukan pada malam hari agar tidak banyak diketahui oleh tetangga ataupun pihak lainnya.

Maresek-resek

Acara ini merupakan langkah penjajakan kepada kedua orang tua calon dari jodoh yang dianggap sesuai. Di sini yang berperan adalah saudara-saudara perempuan ibu dan kerabat dekat lainnya dari pihak perempuan. Acara dilakukan dengan kunjungan ke orang tua calon yang diinginkan untuk dijodohkan. Tentunya tidak secara langsung karena memang di Indonesia ini basa-basi masih sangat berperan.

Setelah bertemu dengan kedua orang tua calon jodoh yang diharapkan, maka diadakan percakapan-percakapan yang bersifat silaturahmi dan saling menanyakan kabar. Dilanjutkan dengan bincang-bincang ringan, dan selanjutnya dilanjutkan dengan acara inti yaitu menyampaikan keinginan melakukan perjodohan anak gadis dengan anak laki-laki tuan rumah.

Ma Antakan Tando

Jika kedua orang tua calon jodoh menerima dan menyambut baik langkah perjodohan ini maka akan dilakukan acara selanjutnya yaitu pertemuan dengan kerabat lain yang lebih banyak. Dalam acara ini diharapkan hadir adalah mamak-mamak, orang Sumando, mak dang, Etek, Bako dan Ipa-Bisan lainnya yang mungkin belum tahu tentang hal ini. Disini disampaikan hasil dari pertemuan dengan calon jodoh laki-laki.

Setelah itu dibuatlah persiapan untuk melakukan acara Ma Antakan Tando yaitu memberi antara sebagai tanda perjodohan. Di suku Minangkabau ini yang berperan aktif dalam hal ini adalah dari pihak perempuan. Sedangkan dari pihak keluarga besar calon jodoh melakukan persiapan menyambut kedatangan pihak wanita. Hal ini dilakukan melalui musyawarah dengan keluarga besar lainnya dari pihak laki-laki.

Upacara Pernikahan

Lazimnya pernikahan dilakukan pada siang hari sebelum waktu sholat dzuhur. Acara dilaksanakan di kediaman pengantin wanita. Sebelum sampai di acara pernikahan (akad nikah), dilakukan penjemputan calon pengantin laki-laki oleh utusan dari keluarga wanita. Utusan ini dibekali dengan berbagai perangkat bawaan diantaranya Boko (kotak) yang berisi pilih pan japuik. Ini merupakan simbol dari adat penjemputan.

Pada acara ini di sediakan uang sebesar Rp 10.000. Dari uang ini separuh diberikan kepada Kekerabatan Anak Nagari dan separuh lagi diberikan kepada orang tua pengantin laki-laki. Tak lupa disertakan carano (dulang) sirih lengkap yang merupakan bawaan yang tak boleh dilupakan. Kelengkapan lainnya adalah uang logam Rp 100 an sebanyak 10 buah dan Rp 1000an sebanyak 10 buah. Untuk mahar biasanya diberikan seperangkat alat sholat yang dibawa oleh Anak Mamak.

Busana Pengantin Adat Koto Gadang

Menjemput Calon Pengantin Pria

Sebagai bagian terpenting dalam tradisi upacara pernikahan di Koto Gadang adalah acara penjemputan pengantin. Rombongan penjemput dari pengantin wanita ini datang ke tempat pengantin laki-laki untuk melakukan upacara penjemputan. Setelah sampai di tempat pengantin pria, maksud kedatangan rombongan ini disampaikan oleh utusan yang mendapat tugas khusus dari Niniak Mamak pengantin wanita. Di sini disampaikan bahwa kedatangan mereka beramai-ramai ini tak lain dan tak bukan adalah melakukan penjemputan pengantin wanita.

Tak lupa juga rombongan ini membawa barang-barang yang telah disiapkan. Setelah penyampaian maksud kedatangan, barang-barang bawaan ini diserahkan untuk diterima dan dicek oleh pihak pengantin pria. Saat ini acara pemeriksaan ini biasanya bersifat formalitas, dan setelah diterima baik dan dianggap telah terpenuhi syarat yang diinginkan oleh pihak pengantin wanita barulah rombongan diperbolehkan membawa calon pengantin pria ini. Selain dari rombongan penjemput, keluarga pihak pengantin pria juga menyertakan rombongan pengantar yaitu orang tua, mamak, bako dan keluarga lainnya yang dihormati.

Simak juga nih

Sentuhan Adat Dalam Sesi Foto Prewedding

Pada Tradisi Prosesi Pernikahan di Koto Gadang, sesampainya di rumah Anak Daro rombongan penjemput dan pengantar calon pengantin ini. Kemudian Bako (keluarga dari pihak ayah) mempersilakan Marapulai yaitu pengantin laki-laki dan pengantarnya yang terdiri dari laki-laki ditempatkan di ujung rumah. Di dalam rumah penghulu dan kerabat pengantin wanita telah bersiap menyaksikan acara pernikahan ini.

Akad Nikah

Tradisi Prosesi Pernikahan di Koto Gadang berikutnya adalah Akad Nikah. Karena agama Islam merupakan agama mayoritas dan hampir sebagian besar suku Minangkabau beragama Islam, maka pernikahan dilakukan mengikuti tradisi syariat Islam. Kedua pengantin dihadirkan tetapi di sini tidak disandingkan. Hal ini berbeda dari masa lalu dimana pengantin wanita tidak menghadiri acara akad ini tetapi diwakili oleh ayah. Sedangkan mahar yang sekarang menjadi favorit sebagai syarat pernikahan adalah seperangkat alat sholat. Setelah semua siap barulah penghulu melaksanakan akad nikah sebagaimana telah ditentukan dalam syariat Islam.

Acara selanjutnya adalah makan Bajamba, di sini semua yang hadir membuat lingkaran. Biasanya terdiri dari 5-6 orang. Makanan disediakan untuk setiap lingkaran yang ada, makanan diletakkan di bagian tengah dan kemudian disantap bersama-sama oleh semua hadirin. Hidangan yang umum disajikan adalah Lauak Kadang, Bibia, Bulai Bubadak juga tak lupa Karabu Randang. Pada acara ini tamu selain makan juga melakukan percakapan-percakapan yang mengakrabkan kedua belah pihak. Setelah semua menikmati hidangan yang disediakan dan makan minum telah selesai acara ini ditutup dengan doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan.

Batandang

Acara berikutnya merupakan acara khusus bagi kedua pengantin. Pada kira-kira jam 19.00 atau jam 20.00 ini kedua pengantin datang ke rumah Bako. Di sini telah hadir undangan yang khusus diberikan kepada anak-anak muda yang akan menemani Anak Daro (pengantin wanita) dan Marapulai (pengantin pria). Biasanya dilakukan perbincangan-perbincangan sambil bercanda dan bersenda gurau ala anak muda. Tak lupa juga dihidangkan makanan dan minuman untuk menemani tamu dan kedua pengantin. Baju khusus untuk acara ini adalah baju Suto yaitu baju yang dibuat dari kain sutra sebagai baju resmi acara batandang ini.

Selanjutnya pada esok hari, kedua orang tua dari marapulai melakukan penjemputan Anak Daro dan meminta mereka mau datang berkunjung pada malam harinya. Di sini juga diadakan acara yang sama seperti yang dilakukan di rumah Bako sebelumnya, kedatangan mereka disambut oleh anak-anak muda yang merupakan teman-teman dekat dari pengantin pria yang akan menemani kedua pengantin.

Baca juga,

Perbedaan Upacara Panggih Jogja dan Panggih Solo

Nah demikianlah Tradisi Prosesi Pernikahan di Koto Gadang. Jadi jika nantinya kamu mendapat jodoh dari sana, kamu sudah dapat membayangkan apa yang akan kamu laksanakan nanti.