Kombinasi Busana Pengantin Adat Sunda dan Palembang di Akad Nikah

Kombinasi Busana Pengantin Adat Sunda dan Palembang di Akad Nikah

Kombinasi Apik Busana Pengantin Dua Adat di Hari Pernikahan

Menentukan konsep pernikahan memang saat yang menyenangkan namun lumayan bikin bingung ya. Apalagi jika kedua pengantin memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Pada hari bahagia tersebut, tentu semua ingin menggunakan busana pengantin sesuai dengan adat budayanya. Tapi, perbedaan tersebut bisa dikombinasikan lho! Karena biasanya momen Akad Nikah dan Malam Resepsi dibagi di dua waktu yang berbeda, kamu bisa menerapkan kombinasi dua adat berbeda pada momen tersebut. Semisal pada waktu Akad Nikah sesuai dengan Adat dari pengantin wanita, baru di resepsi menggunakan konsep Adat budaya pengantin pria. Bisa juga melakukan Kombinasi Busana Pengantin Adat di hari Akad lho.

Sebagai contoh, salah satu pasangan yang Alienco Photo dokumentasikan hari bahagianya nih, yaitu pasangan Kamila dan Kadir. Hari bahagia Kamila dan Kadir ini Alienco foto turut andil dalam dokumentasinya, mulai dari hari siraman dan pengajian, akad nikah, hingga malam resepsinya. Konsep yang diangkat pasangan ini pun sangat menarik. Terlihat Adat Sunda dan Adat Palembang digunakan saat hari Akad Nikah.

Foto Kombinasi Busana Pengantin Adat Sunda dan Palembang di Hari Akad

Pengantin dengan Adat Sunda

Kamila, pengantin wanitanya, menggunakan busana pengantin Adat Sunda. Terlihat sangat cantik dengan kebaya putih lengkap dengan siger dan ronce melati sebagai aksesoris kepala. Tak lupa juga henna art yang menambah kecantikan Kamila pada hari bahagianya tersebut. Serasi dengan pengantin wanitanya, Kadir juga memakai busana pengantin pria Adat Sunda dengan warna senada. Penampilannya dilengkapi dengan peci Imamah. Kedua pengantin terlihat tetap cantik dan tampan dengan balutan busana pengantin tradisional ya!

Kombinasi Dua Adat Berbeda

Kombinasi Dua Adat Berbeda

Baca juga,

Ronce Melati Pengantin Adat Jawa Barat

Pengantin dengan Adat Palembang

http://alienco.net/ronce-melati-pengantin-adat-jawa-barat/

Di hari yang sama, pasangan Kamila dan Kadir juga menggunakan konsep busana pengantin Adat Palembang nih. Busana ini disebut Aesan Paksangko. Aesan Paksangko ini memiliki ciri khas baju kurung lengan panjang pada pengantin wanita dan bagian lengan serta dada tertutup pada pengantin prianya. Warna yang digunakan pun merupakan khas warna busana pengantin Adat Palembang, yaitu warn-warna merah dengan berhiaskan warna gold. Kalau kesulitan mengenali khas budaya Adat Palembang, bisa dilihat dari hiasan Sumping dan hiasan teratai dada.

Menarik sekali ya! Karena kebudayaan di Indonesia sangat beragam, tradisi dalam pernikahan pun juga beragam. Keunikan dari ciri khas busana pengantin Adat yang ada di Indonesia pun sangat unik dan memiliki daya tariknya masing-masing. Keindahan budaya tersebut harus selalu dilestarikan dan dijaga. Mempertahankan kekayaan budaya yang ada di Indonesia juga bisa dengan cara menerapkannya dalam konsep busana pernikahan hari bahagia kamu, kan?

Demikianlah pembahasan tentang Kombinasi Busana Pengantin Adat Sunda dan Palembang di Hari Akad kali ini. Nantikan kombinasi lainnya ya! Atau kamu mau jadi salah satunya? Abadikan momen tersebut bersama Alienco Photo ya, berbagai foto dokumentasi pernikahan karya Alienco bisa dilihat di instagram @aliencophoto lho. Segera hubungi Admin Alienco untuk informasi jasa foto pernikahan kami. Semoga bermanfaat dan selamat berbahagia!

Baca juga,

Prosesi Pernikahan Adat Aceh, Ini Dia Tahapan Lengkapnya!

5 Pernikahan Adat Yang Tren Tiap Tahun

5 Pernikahan Adat Yang Tren Tiap Tahun

5 Pernikahan Adat Yang Tren Tiap Tahun

Prosesi pernikahan memang momen yang sakral bagi pasangan pengantin yang menikah, tapi juga menjadi momen berkesan bagi tamu undangan. Melihat indahnya dekorasi pelaminan dan konsep pernikahan yang menjadi tema pilihan. Merasakan berbagai sajian makanan yang beragam, entah makanan tradisional atau pun kekinian. Tentu punya ciri khasnya masing-masing. Terlebih bagi tamu undangan yang menghadiri pernikahan dengan konsep tradisional. Berbagai prosesi adat yang dilangsungkan tentunya menarik untuk diliat dan diabadikan.

Jika membahas tentang pernikahan dengan prosesi adat tentu tiada habisnya. Apalagi dengan banyaknya suku dan kebudayaan yang ada di Indonesia, tentu prosesi adatnya pun beragam. Prosesi pernikahan adat apa saja sih yang pernah kalian hadiri? Apakah pernikahan Adat Batak? Atau Adat Solo, mungkin juga Adat Manado?  Masing-masing kebudayaan tersebut nggak hanya dari tahapan prosesi pernikahannya aja lho yang berbeda. Namun juga busana, dekorasi pelaminan, hingga sajian makanannya pun punya ciri khas unik dan wajib juga dilestarikan.

Banyaknya ragam prosesi pernikahan adat di Indonesia, pasti ada beberapa yang tampak sering digunakan sebagai konsep utama sebuah pesta pernikahan, kan? Bagi pasangan yang lebih memilih menggunakan konsep modern pada pernikahannya, bisa juga lho mempertimbangkan prosesi tradisional. Nah berikut ini Alienco akan membagikan beberapa prosesi pernikahan yang mungkin banyak dari kalian sudah ketahui dan pasti temui tiap tahunnya. Yuk simak 5 Pernikahan Adat Yang Tren Tiap Tahun di bawah ini :

Adat Jawa Yogyakarta dan Adat Jawa Solo

Sudah bukan rahasia lagi jika Pulau Jawa merupakan pulau yang paling padat penduduknya di banding pulai Indonesia yang lain. Suku yang mendiami Pulau Jawa beragam lho, ada Suku Jawa, Suku Sunda, Suku Betawi, Suku Baduy, dan suku pendatang  pulau lain. Tentunya prosesi pernikahan dengan Adat Jawa Yogyakarta atau Jawa Solo adalah yang paling sering dijumpai. Pernikahan adat yang tren tiap tahun dipuncaki oleh Adat Jawa nih. Meski banyak tradisi pernikahan di tiap daerah DIY dan Jawa Tengah, banyak pengantin memilih Adat Jawa Yogyakarta atau Jawa Solo tersebut. Prosesi yang harus dilalui pengantin pun tidak hanya pada hari H pernikahan saja, bahkan pra pernikahan pun ada. Misalnya calon pengantin wanita harus dipingit dalam waktu tertentu, melakukan prosesi siraman juga. Bagi calon pengantin pria prosesi pemberian seserahan juga dilakukan saat pra pernikahan.

Setelah itu beragam tahapan prosesi di hari pernikahan juga harus dilaksanakan. Seperti rangkaian ritual panggih. Bahkan di dalam ritual ada ritual lagi lho. Nah di dalam ritual panggih ada sanggan, balangan gantal, wijikan lan mecah endog, ngombe degan, dan seterusnya. Dari sekian banyaknya prosesi, memang tidak semuanya dilakukan. Banyak pengantin yang memilih beberapa prosesi saja untuk dilaksanakan, namun tidak mengurangi makna yang ada. Yang jelas semua prosesi tersebut memiliki makna dan harapan yang baik untuk pengantin yang menikah.

Tidak hanya prosesi saja yang dijalani. Kedua pengantin juga menggunakan busana khas suku tersebut sebagai busana pengantin. Busana pengantin pria Adat Jawa ini disebut Jawi Rangkep. Bagian atas menggunakan baju beskap, dilengkapi stagen, blankon, kain jarik, hingga keris. Sedangkan pengantin wanita, busana pengantinnya menggunakan kebaya dengan kain kemben sebagai penutup dada. Kain jarik juga digunakan sebagai bawahan bagi pengantin wanitanya. Oiya, untuk aksesoris kepala, biasanya pengantin wanita disanggul dilengkapi dengan riasan wajah yang khas wanita Jawa.

Baca juga Urutan Lengkap Upacara Panggih, Ritual Khas Pernikahan Jawa 

Adat Sunda

Masih di Pulau Jawa, kali ini prosesi pernikahan adat yang tren berikutnya adalah prosesi pernikahan Adat Sunda. Walau sama-sama di Pulau Jawa, namun Suku Sunda yang kebanyakan mendiami wilayah Jawa Barat ini memiliki prosesi sendiri lho. Prosesi Adat Sunda juga memiliki tradisi pemberian seserahan, namun dengan ketentuan yang berbeda dari seserahan Adat Jawa. Ada juga ritual ngeyeuk sereuh yang biasa dilakukan bersamaan dengan penyerahan seserahan. Ngeyeuk sereuh sendiri adalah prosesi dimana kedua calon pengantin meminta doa dan restu orang tua. Biasanya digelar di rumah pihak wanita. Saat hari H pernikahan, prosesi yang harus dijalani juga lumayan banyak nih. Misalnya sawer, meuleum harupat, nincak endog,dan seterusnya.

Untuk busana pengantin Adat Sunda, pengantin pria akan menggunakan Jas Buka Prawegdana. Sedangkan pengantin wanita menggunakan kebaya yang biasanya berbahan brokat. Warna busana pengantinnya juga diselaraskan antara keduanya. Dilengkapi dengan bawahan kain batik yang juga senada. Untuk aksesoris kepala sendiri pengantin wanita menggunakan bendo berhiaskan permata.

Baca juga Mengenal Jumlah Seserahan dari Etnis Jawa, Sunda, dan Tionghoa

Adat Palembang

Pernikahan adat yang tren selanjutnya banyak digelar berasal dari Pulau Sumatera nih, yaitu Adat Palembang. Kalau dilihat secara visual, prosesi Adat Palembang menunjukkan khas keagungan budaya dari kerajaan Sriwijaya. Kita tentu tau bagaimana kejayaan kerajaan Sriwijaya pada masa lampau. Hal ini tergambar pada warisan budayanya, terutama pada ritual dan busana pengantin Adat Palembang.

Sebelum menentukan pasangan, pihak pria akan melakukan penelitian yang terselubung. Ini bertujuan untuk mengamati calon wanitanya, apakah bertabiat baik dan baik tidaknya kebiasaannya. Bahkan kecantikan, hingga ketaatan beribadahnya juga menjadi indikator yang dilihat pihak pria. Kemudian ada milih calon, madik, tunangan, berasan, mutuske kato, ngaterke belanjo. Nah semua tahapan itu ada pada pra pernikahan yang dilanjutkan ke persiapan pernikahan. Akad Nikah menjadi tahapan selanjutnya yang kemudian dilakukan munggah. Munggah ini dilaksanakannya di kediaman pengantin wanita. Acara munggah ini ibarat ngunduh mantu. Saat resepsi pernikahan pun akan ada Tarian Pagar Pengantin.

Masih dengan khas peninggalan Sriwijaya, busana pengantin Adat Palembang berkaitan erat dengan hal tersebut lho. Nama busananya adalah aesan gede dan aesan paksangko. Keduanya memiliki perbedaan. Aesan gede pengantinnya menggunakan dodok dengan songket khas Palembang yang ditutupi terate. Kalau aesan paksangko, kalian mungkin akan terpesona dengan keanggunannya nih! Karena pengantin menggunakan baju kurung. Warna merah dengan aksesoris emas menjadi ciri khasnya. Dilengkapi juga dengan terate sama seperti aesan gede. Kepala pengantin pun turut dihiasi aksesoris untuk melengkapi penampilannya. Pada aesan gede pengantin wanita akan menggunakan sebuah mahkota karsuhun. Sedangkan pengantin pria menggunakan kopiah cuplak. Selendang sawit juga disilangkan pada bahu  pengantin. Selanjutnya pada aesan paksangko, akseoris kepala wanita banyak dihiasi bunga-bungaan. Seperti kembang goyang, kembang kenango, dan banyak lagi. Aksesoris pengantin pria menggunakan selempang dari songket serta kopiah yang berwarna emas.

Adat Minangkabau

Berikutnya adalah pernikahan Adat Minangkabau, pernikahan Adat Minangkabau tentu saja masuk ke dalam list pernikahan adat yang tren tiap tahun. Nah kalau ini sih berasal dari provinsi Sumatera Barat. Walau begitu tahapan prosesi yang dilalui tidak sebanyak dengan prosesi pada Adat Jawa lho ternyata. Pada pra pernikahan, pengantin wanita akan melalui malam binai, atau malam dimana gadis Minang melepas masa lajangnya. Kemudian akan ada beragam prosesi lanjutan, yaitu manjapuik marapulai, balantuang kaniang, mangruak nasi kuniang, dan seterusnya. Yang menjadi ciri khas tentu saja dekorasi yang menyerupai rumah adat Sumatera Barat untuk pelaminannya.

Bagi pengantin Adat Minangkabau, yang paling dikenal pada busananya tentu saja sunting yang ada pada aksesoris kepala pengantin wanita. Selain itu baju kurung dan sarung balapak juga merupakan khas Adat Minangkabau lho. Pada sunting sendiri juga beragam jenisnya bergantung pada daerah Minangnya. Contohnya sunting pisang saparak untuk Solok Salayo, suntiang sariantan untuk daerah Padang Panjang, dan sebagainya.

Artikel terkait Mengabadikan Keunikan Prosesi Pernikahan Adat Minangkabau Ala Alienco 

Adat Batak

Berbicara tentang pernikahan adat yang tren tiap tahunnya tentu tidak lupa pernikahan Adat Batak. Pernikahan Adat Batak pun sering kita jumpai sebagai konsep pernikahan adat kan? Nah prosesi pernikahan Adat Batak sendiri ternyata juga memiliki beberapa prosesi berdasarkan etnisnya. Batak Toba dengan Batak Karo punya prosesi sendiri, begitu juga dengan Batak Mandailing. Namun pada umumnya, pernikahan Adat Batak selalu digelar di wedding venue lho. Tidak digelar di kediaman salah satu pengantin, melainkan menyewa gedung khusus untuk pernikahan. Jika tidak gedung, Adat Batak juga biasa digelar di ballroom hotel. Yang jelas selalu di tempat khusus.

Persamaan pada prosesinya berkaitan dengan kain khas Sumatera Utara, yaitu kain ulos. Ada sebuah prosesi pengalungan kain ulos, atau bisa disebut mangulosi. Kain ulos sendiri selain khas daerah, ternyata juga memiliki makna yang mendalam bagi Suku Batak. Berdasarkan sejarah ulos, kain ini diharapkan bisa memberikan kehangatan serta mengayomi si pemakai. Makna dari mangulosi tersebut adalah perlindungan, karena dikalungkan pada kedua pengantin berharap dapat melindungi keduanya. Juga bermakna kasih sayang dari pemberi kepada pemakai, yaitu kedua pengantin. Benar-benar bermakna ya!

 

Nah menarik banget ya! Keberagaman tersebut dengan segala keunikan dan ciri khasnya pantas saja banyak menjadi pilihan pengantin untuk konsep pernikahannya. Tapi tentu saja perlu diingat pernikahan adat yang ada di Indonesia tidak hanya itu saja ya! Untuk melihat berbagai foto-foto pernikahan adat yang menarik yuk kunjungi @aliencophoto