9 Mitos Pernikahan Jawa Ini Banyak Dipercaya Oleh Masyarakat

9 Mitos Pernikahan Jawa Ini Banyak Dipercaya Oleh Masyarakat

Percaya atau Tidak? Ini Dia 9 Mitos Pernikahan Jawa yang Banyak Dipercaya

9 Mitos Pernikahan Jawa. – Jangan duduk di depan pintu, pamali! Jangan bangun siang nanti rejekinya dipatuk ayam!

Tentu beberapa dari kalian pernah mendengar hal-hal tersebut dari orang tua atau nenek kakek kalian kan? Hal tersebut merupakan beberapa contoh mitos yang beredar di masyarakat dan kebanyakan juga masih dipercayai kebenarannya. Sebenarnya benar atau tidaknya, ungkapan tersebut mengandung makna yang baik kok. Seperti tidak boleh duduk di depan pintu, karena memang menghalangi orang yang akan lewat. Kemudian jika bangun siang maka rejeki bisa saja diambil orang lain.

Nah kali ini Alienco akan membahas beberapa mitos, tapi mitos pernikahan, yaitu mitos pernikahan Jawa. Mitos pernikahan di bawah ini kebanyakan masih diyakini dan banyak dilakukan oleh masyarakat Jawa sebelum melangsungkan pernikahan. Apa aja sih? Yuk langsung simak saja mitos pernikahan Jawa di bawah ini :

foto pengantin

Pernikahan Siji karo Telu Tidak Boleh

Bagi masyarakat umum mungkin mitos Jawa berikut tidak terlalu diambil pusing. Bahkan sebagian besar masyarakat Jawa yang tidak terlalu menganut adat sendiri tidak terlalu mempermasalahkan hal ini. Ada mitos pernikahan Jawa yang mengatakan bahwa anak pertama tidak boleh memiliki pasangan yang merupakan anak ketiga di keluarganya. Dalam mitos Jawa hal ini sangat dihindari.

Loh kenapa? Asal mitos pernikahan tersebut dari mana? Bagi orang tua yang masih mempertahankan budayanya mengatakan hal ini sudah menjadi aturan dari leluhur terdahulu. Ketika leluhur masih hidup aturan ini sudah ada, sehingga harus dituruti oleh keturunan-keturunan sukunya. Alasan yang mendasari menurut mereka adalah perbedaan karakter anak pertama dengan anak ketiga. Perbedaan karakter tersebut dipercayai tidak akan cocok karena terlalu berbeda.

Kalau mengabaikan mitos tersebut dan menikahkan anak pertama dengan anak ketiga, apa yang akan terjadi? Nah masyarakat Jawa percaya bahwa hal tersebut akan mendatangkan musibah ke dalam keluarganya. Masalah dan cobaan akan terus berdatangan kepada keluarga yang tetap menikahkan anak pertama dengan anak ketiga. Seram juga ya!

Pernikahan Siji Jejer Telu Tidak Boleh

Ada lagi nih pernikahan yang dilarang. Jika sebelumnya tentang anak pertama dengan anak ketiga, kali ini berbeda. Mitos pernikahan Jawa ini mengatakan calon mempelai yang sama-sama anak pertama tidak boleh menikah. Kenapa? Mereka tidak boleh menikah jika salah satu orang tuanya juga merupakan anak pertama di keluarganya. Kalau orang tuanya tidak ada yang anak pertama boleh-boleh saja mereka menikah.

Jadi arti dari Siji Jejer Telu adalah satu berjajar atau berurut tiga kali. Adanya status anak pertama tiga sangat dilarang. Sama seperti pernikahan Siji Karo Telu alasannya. Yaitu jika tetap memaksa untuk menikah, maka kesialan dan musibah akan menimpa keluarga tersebut.

Baca juga,

Tradisi Adat Jawa : Jangan Menikah Pada 4 Waktu Ini!

cincin pernikahan

Tidak Boleh Memindahkan Cincin Ke Jari Lain

Kali ini mitos pernikahan Jawa yang berkaitan dengan cincin tunangan. Pada mitos pernikahan Jawa kali ini, masyarakatnya mempercayai bahwa cincin tunangan adalah pembawa keberuntungan. Cincin yang diberikan oleh pihak pria kepada wanitanya sejak hari pemasangan tidak boleh dipindahkan.

Sekali dipasang di jari manis wanita, si wanita tidak boleh memindahkannya ke jari lain. Nah baru dipercaya bahwa cincin tersebut membawa keberuntungan. Cincin itu tidak boleh dipindahkan hingga hari H pernikahan. Namun jika terlanjur memindahkannya sebelum hari, maka keberuntungan tidak akan datang dan berganti kesialan.

Tentu saja hal tersebut hanya berdasarkan kepercayaan saja. Secara umum tentu saja jodoh siapapun sudah ditentukan oleh Tuhan. Msyarakat umum mengatakan kesialan tersebut haruslah dihadapi oleh kedua mempelai bersama-sama. Maka kemudian kebaikan akan menyertai langkah keduanya.

Baca juga,

Sebagai Simbol Pernikahan, Sejarah Cincin Yang Wajib Kamu Ketahui!

Hadiah Pernikahan

Membawa hadiah untuk pengantin saat diundang ke acara pernikahan tentu sudah semacam menjadi kebiasaan saat ini. Hadiah-hadiah tersebut biasanya diberikan ketika tamu mengisi daftar hadir. Isinya pun beragam, seperti pakaian pasangan dan barang-barang lainnya. Entah apapun isi kadonya, ada mitos Jawa yang mungkin baru kalian ketahui nih.

Berdasarkan mitos Jawa, kado yang dibuka pertama kali adalah yang dipakai untuk pertama kali juga. Maknanya adalah awal atau permulaan kehidupan baru bagi kedua pasangan. Hal ini juga dipercaya membawa keburuntungan bagi keluarga pengantin baru tersebut lho.

adat jawa

Menyamakan Tanggal Pernikahan Dengan Tanggal Lahir

Sudah menentukan tanggal pernikahan? Pertimbangan apa yang kalian lakukan saat akan memilih tanggal pernikahan? Bagi masyarakat Jawa, penentuan tanggal pernikahan adalah tahap paling penting dan dilakukan dengan sangat hati-hati. Orang tua mempelai biasanya tidak hanya berunding dengan kedua mempelai saja, namun biasanya meminta pendapat sesepuh di keluarga.

Sebelum menentukan tanggal pernikahan banyak yang dipertimbangkan. Karena masyarakat Jawa memiliki waktu tertentu di tanggal dan bulan yang dilarang diadakannya pernikahan. Salah satunya adalah menikah di hari yang sama dengan tanggal lahir mempelai. Biasanya orang akan memilih tanggal yang sama dengan kelahiran karena sangat bermakna. Nah pada mitos pernikahan Jawa, jika menikah di tanggal yang sama dengan tanggal lahir mempelai pria maka akan memperoleh keberuntungan. Kedua mempelai juga akan terhindar dari musibah serta selalu mendapatkan kebaikan.

Larangan Menikah di Bulan Syuro

Kalian tentu tau bahwa masyarakat Jawa memiliki hitungannya sendiri dalam pertanggalan. Nama bulannya pun khas dan tentunya ada mitos yang menyertai. Mitos pernikahan Jawa mengatakan bahwa menikah di bulan Syuro itu dilarang. Dalam Islam bulan Syuro adalah bulan Muharram. Pernikahan pada bulan tersebut sebaiknya dihindari. Mitos pernikahan Jawa tersebut berkaitan erat dengan sejarah dan kepercayaan masyarakat Jawa pada Leluhurnya.

Masyarakat Jawa sangat mempercayai bahwa bulan Syuro adalah bulan dimana Ratu Pantai Selatan tengah mengadakan hajatan. Maka dari itu masyarakat harus menghormatinya dan tidak boleh mengadakan hajatan, sebagai contoh pernikahan. Karena bulan Syuro adalah bulan yang keramat bagi masyarakat Jawa. Jika bersikeras menikah di bulan tersebut dan melanggarnya, dipercaya bahwa musibah dan malapetaka akan datang. Musibah itu dipercaya akan menimpa pasangan yang menikah beserta keluarga besarnya.

Weton Jodoh

Berikutnya adalah weton jodoh. Bagi kalian yang bukan orang Jawa tentu asing dengan istilah ini, karena hanya benar-benar berasal dari Jawa. Weton jodoh adalah perhitungan yang dilakukan oleh orang Jawa sebelum memutuskan untuk melakukan pernikahan. Weton jodoh ini untuk melihat kecocokan kedua mempelai yang akan menikah. Bisa jadi cocok, bahkan bisa juga ada weton yang tidak menunjukkan kecocokan keduanya. Jika ada ketidakcocokan yang terlihat ketika weton jodoh, diharapkan kedua calon mempelai tidak menikah.

Larangan Rumah Kedua Mempelai Berhadapan

Mitos pernikahan Jawa berikutnya adalah adanya larangan calon mempelai yang akan menikah tidak boleh rumahnya berhadapan. Nah kalau kedua mempelai tetap memutuskan untuk mengabaikan larangan tersebut dan menikah, tentu ada akibatnya. Masyarakat Jawa percaya bahwa malapetaka dan musibah akan menimpa kehidupan pernikahan mereka kelak. Wah seram juga ya!

Namun ada solusi untuk menghindari malapetaka tersebut. Salah satu mempelai harus merenovasi rumahnya hingga tidak berhadapan, lebih baik jika pindah rumah. Ada juga yang mengatakan kalau salah satu mempelai dibuang keluarganya dan tinggal di tempat lain yang tidak berhadapan. Jika sudah begitu baru boleh menikah. Mitos pernikahan Jawa ini banyak dipercayai oleh masyarakat di daerah Jawa Timur.

pengantin wanita jawa

Baca juga,

 4 Pertimbangan Sebelum Membeli Rumah Pertama

Larangan Rumah Menghadap Timur

Tidak hanya mitos sebelum atau saat pernikahan saja lho. Bagi kalian yang sudah menikah dan sedang mencari rumah baru sebaiknya ketahui mitos Jawa yang satu ini. Masyarakat Jawa memiliki mitos bahwa rumah tidak boleh menghadap ke arah Timur. Kenapa? Hal ini dipercaya bahwa makhluk halus senang singgah ke rumah yang menghadap ke arah Timur. Jadi sebelum membeli atau membangun rumah, masyarakat Jawa selalu menghindari menghadap ke Timur.  Selain itu juga hal ini juga sudah ada sejak jaman leluhur dan merupakan aturan yang tidak boleh dilanggar.

Itu dia mitos pernikahan Jawa yang hingga kini masih dipertahankan dan dilakukan. Percaya atau tidaknya kembali kepada masing-masing dan bagaimana keputusan kedua mempelai dan keluarga. Kita hanya perlu mengambil makna dan maksud baik dari mitos tersebut.

Apalagi untuk urusan dokumentasi pernikahan, percayakan momen pernikahan kalian kepada Alienco ya! Semoga artikel ini bermanfaat! Bagi kalian yang mungkin mengetahui mitos pernikahan Jawa lainnya yang mungkin terlewat boleh banget berbagi di kolom komentar 🙂 ditunggu ya!

Beragam Isi Seserahan Dalam Tradisi Pernikahan

Beragam Isi Seserahan Dalam Tradisi Pernikahan

Beragam Isi Seserahan Dalam Tradisi Pernikahan

Lamaran sebagai bentuk kesungguhan pihak calon pengantin pria akan meminta calon pengantin wanita untuk menjadi pasangan hidupnya.  Pada kebanyakan tempat/adat di negara kita ini, prosesi ini mempunyai bentuk yang berbeda-beda namun pada intinya hampir sama.  Umumnya seorang pria bersama orang tua dan juga bisa mengajak keluarga dekat lainnya mendatangi tempat calon pengantin wanita untuk menyampaikan maksud meminta pihak wanita menjadi pendamping hidupnya. Tak ketinggalan dalam prosesi lamaran ini dibawakan juga barang-barang tertentu (hantaran). Di Jawa ini dikenal dengan nama seserahan, sedangkan di Minang dikenal dengan istilah bertukar tando, untuk tradisi Batak disebut dengan jujur serta maatar patilian sebutan untuk daerah Banjar.

Barang-barang sebagai hantaran ini adalah ungkapan penghormatan dari pihak pria kepada pihak wanita. Biasanya berupa materi atau barang atau juga makanan tertentu. Di dalam masing-masing adat barang-barang tertentu kadang diwajibkan untuk ada. Ini merupakan syarat yang memang mempunyai simbolisasi dari makna yang terkandung pada barang-barang tersebut.  Dalam hal ini pihak pria harus benar-benar mengusahakan agar barang-barang yang diwajibkan tersebut juga ada pada waktu prosesi lamaran ini.

Apa saja barang-barang yang diwajibkan untuk ada pada waktu lamaran ini? Tentu tergantung ketentuan dari masing-masing adat daerahnya.

Minahasa

Untuk daerah Minahasa umumnya pengantin pria diwajibkan membawa hasil bumi Hal ini mungkin karena di masa lampau mata pencaharian sebagian besar orang di daerah Minahasa adalah petani. Hasil bumi merupakan andalan bagi seorang petani, dan ini menjadi barang hantaran wajib. Biasanya berupa padi, ubi-ubian, kelapa, kacang dll, ini sebagai lambang dari kesuburan. Barang lain adalah sirih dan pinang, yang merupakan tanda kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Buah-buahan  juga wajib disertakan sebagai tanda bahwa sang pria adalah pekerja keras yang siap menanggung nafkah seluruh keluarganya.  Gelas bambu atau dikenal dengan nama kower juga disertakan sebagai pertanda kesederhanaan sang pria. Tak ketinggalan adalah ikan bakar, yang menjadi simbol bahwa sang pria telah siap mengajak sang wanita untuk mengaruhi lautan kehidupan yang luas.

Yuk simak juga 5 Alasan sebagai Pertimbangan Sebelum Menentukan Seserahan

Minangkabau

Pada Adat Minangkabau, hantaran yang berupa sirih pinang menjadi barang yang tidak dapat ditawar-tawar.  Hal ini terkait erat dengan kehidupan masyarakat minang, sirih dan pinang mempunyai makna yang sangat dalam.

Dalam sirih pinang terkandung rasa pahit dan manis dari daun sirih. Hal ini sebagai pertanda bahwa sebagai manusia, kita sangat memahami akan kekurangan-kekurangan yang ada. Adalah hal yang biasa bahwa dalam suatu pertemuan akan terjadi perbedaan atau perselisihan pendapat. Hal ini sangat dimaklumi bagi kedua belah pihak. Dengan suguhan sirih sebelum acara pertemuan, diharapkan kedua belah pihak akan sama-sama memaklumi perbedaan pendapat yang nanti akan timbul dan tidak menjadikannya sebagai gunjingan yang akan membuat salah satu pihak tersinggung.

Solo, Jawa Tengah

Untuk daerah Jawa khususnya di Jawa Tengah yang memakai adat Jawa, prosesi lamaran disebut juga panembung (tembung) artinya bicara atau meminta dengan ucapan. Dalam acara ini wajib bagi calon pengantin pria untuk membawakan paningset atau biasanya juga dikenal dengan srah-srahan. Paningset atau pengikat ini sebagai simbol pengikatan kedua calon pengantin.

Barang-barang yang menjadi paningset ini dikelompokkan dalam empat macam. Paningset utama, abon-abon, pengiring paningset dan sesaji pelengkap.  Namun demikian saat ini isi untuk barang-barang paningset juga telah menjadi beragam, sesuai keinginan dari pihak pria dan wanita. Yang menjadi barang wajib untuk paningset utama ini adalah perlengkapan busana untuk wanita yang akan dipakai nanti pada saat prosesi pernikahan yaitu setagen, kain batik, kain sindur berupa selendang panjang dengan warna merah dan warna putih, serta semekan (untuk menutup payudara).

Paningset lainnya adalah paningset abon-abon. Paningset ini berupa jeruk gulung (jeruk bali), tebu wulung, nasi golong (nasi yang dibuat bulatan dan dibungkus dengan daun pisang), pisang mas, set perangkat makan sirih lengkap. Untuk barang paningset selanjutnya yang juga dikenal dengan paningset pengiring adalah hasil bumi. Ini selain sebagai tanda kesungguhan juga sebagai bantuan kepada pihak wanita untuk meringankannya menanggung biaya hajatan  yang kadang juga tidak sedikit.

Untuk mengetahui jumlah seserahan untuk Adat Jawa, kamu bisa simak Mengenal Jumlah Seserahan dari Etnis Jawa, Sunda, dan Tionghoa

 

Nah demikianlah artikel kali ini, semoga bermanfaat ya!

Mitoni : Ritual Budaya Jawa Untuk Menyiapkan Kelahiran Bayi

Mitoni : Ritual Budaya Jawa Untuk Menyiapkan Kelahiran Bayi

Mitoni : Ritual Budaya Jawa Untuk Menyiapkan Kelahiran Bayi

Keberagaman upacara dan ritual tradisional di Indonesia sudah sangat terkenal, bahkan Indonesia merupakan salah satu negara dengan kebudayaan terkaya di dunia. Dalam satu suku saja memiliki banyak ritual mengenai berbagai macam hal. Selain ritual pernikahan yang khas dan berbeda dengan yang lain. Salah satu kekayaan tradisi budaya Jawa adalah upacara Mitoni. Memang kehidupan dalam pandangan  orang Jawa sangat terkait dengan perputaran waktu, termasuk waktu sebelum kelahiran. Kehamilan sebagai tanda bahwa kehidupan baru telah dimulai dan akan berjalan pada seorang manusia.

Ritual Mitoni ini hadir sebagai salah satu upaya  untuk mempersiapkan kehadiran seorang anak. Kata Mitoni berasal dari pitu yang berarti tujuh. Di sini ritual Mitoni adalah ritual yang diselenggarakan pada usia kehamilan tujuh bulan. Kehadiran anak dalam sebuah rumah tangga merupakan sesuatu yang sangat diharapkan, apalagi untuk anak pertama. Oleh karena itu diadakanlah ritual ini untuk memohonkan doa kepada Tuhan agar selalu memperoleh keselamatan dan kelancaran bagi ibu maupun anak yang akan lahir.  Istilah lain untuk ritual Mitoni adalah Tingkeban.

Ada beberapa rangkaian acara yang wajib dilakukan dalam ritual Mitoni ini. Berbagai acara ini tentunya dilakukan secara urut agar memperoleh hasil seperti yang diinginkan. Acara yang dilaksanakan dalam Mitoni ini mempunyai makna yang mendalam.

Apa saja yang perlu kamu siapkan jika ingin melaksanakan ritual Mitoni ini? Upacara Mitoni ini tidak lengkap jika tidak disiapkan perlengkapan berikut ini diantaranya : bubur dengan tujuh warna, ketan atau jadah juga dalam tujuh rupa, tumpeng buceng, procotan yang berupa makanan berbungkus daun pisang, jajanan pasar dalam beberapa macamnya.

Nah apa saja yang dilakukan pada prosesi Mitoni ini? Mungkin kamu penasaran, jadi simak uraian berikut ya!

Sungkem Kepada Orang Tua

Acara sungkeman mengawali ritual Mitoni ini, sungkeman dilakukan oleh calon ibu dan ayah kepada kedua orang tua. Sungkeman ini menyiratkan permohonan doa restu kepada calon orang tua agar mendapatkan keselamatan dalam pelaksanaan acara maupun dalam proses kelahiran sang bayi nantinya.

Siraman atau Mandi

Acara ini dilakukan dengan memandikan calon ibu. Sang ibu berbalut kain batik duduk pada tempat duduk yang telah disiapkan. Air siraman adalah air yang telah disiapkan secara khusus berupa air yang ditaburi dengan kembang setaman bahkan pada masa lalu diharapkan bahwa air ini juga berasal dari tujuh sumber. Tujuh orang yang dipilih secara khusus akan melakukan siraman kepada sang ibu, yaitu mengguyurkan air dengan gayung dari batok kelapa. Tujuh orang ini diharapkan adalah orang-orang yang nantinya dapat menjadi teladan bagi sang anak yang akan menyertakan doa. Biasanya dipilih dari orang yang paling tua atau yang dituakan dalam keluarga.

Ngrogoh Cengkir

Kata cengkir berasal dari kencengen pikir maksudnya pikiran yang kuat, cengkir ini adalah tunas kelapa, yang dalam masyarakat Jawa adalah pohon yang mempunyai banyak manfaat. Diharapkan nanti sang anak yang akan lahir akan menjadi anak yang dewasa dan berguna bagi masyarakat. Sang calon ayah akan mengambil cengkir ini untuk dipersiapkan pada acara selanjutnya.

Brojolan atau Brobosan

Brojol artinya keluar dan brobosan artinya menerobos, dalam ritual ini kedua cengkir yang telah diambil dari acara sebelumnya akan diluncurkan dari balik kain yang dipakai oleh sang ibu. Dengan harapan agar memperoleh keturunan yang cantik dan rupawan maka cengkir ini dilukis dengan gambar Dewi Kamaratih (dewi kecantikan) dan Dewa Kamajaya (dewa yang berwajah rupawan). Jadi harapan besar agar nantinya bayi yang  lahir mempunyai wajah yang cantik bagi wanita dan wajah nan tampan bagi bayi laki-laki.

Membelah Cengkir

Cengkir yang telah dibroboskan, sebagai tanda bahwa bayi yang lahir, kemudian dibelah. Ini menggambarkan bahwa jalan bagi anak telah terbuka, dan siap diterima untuk hadir dalam kehidupan sebuah keluarga. Ini juga berarti bahwa calon orang tua telah siap menerima kehadiran sang bayi.

Simak juga Urutan Lengkap Upacara Panggih, Ritual Khas Pernikahan Jawa

Pantes-pantesan

Acara ini merupakan acara khusus yang cukup menarik. Sang ibu akan berganti busana sebanyak tujuh kali. Setiap selesai berganti busana maka sang ibu dihadapkan kepada para tamu, nanti para tamu akan menilai dengan menjawab tidak pantas, sampai pada busana ketujuh.  Busana ketujuh adalah busana yang akan dipilih sebagai busana yang akan dipakai selanjutnya. Sedangkan busana yang lain dilipatkan sebagai alas untuk acara angrem.

Angrem

Angrem bermakna mengerami yaitu seperti ayam betina yang mengerami telur. Di sini sang ibu duduk di atas busana-busana yang telah disiapkan yaitu dari kain pada acara pantes-pantesan. Acara ini melambangkan bahwa sang ibu dan ayah akan bertanggung jawab kepada calon bayi, baik itu untuk kebutuhan lahir (sandang, pangan, dan papan) maupun kebutuhan batin (perlindungan, keamanan dan kedamaian).

Pemotongan Tumpeng

Setelah prosesi angrem selesai kemudian tiba acara pemotongan tumpeng. Untuk tumpengnya tidak ada aturan khusus. Seperti biasa nasi kuning yang berbentuk tumpeng/kerucut dengan dihiasi berbagai macam lauk pauk juga sayuran di sekelilingnya. Tumpeng yang telah disiapkan kemudian dipotong bagian atasnya, lalu diberikan kepada orang yang dihormati. Ini menandakan acara utama ritual Mitoni telah berjalan dengan lancar.

Baca juga 5 Alasan sebagai Pertimbangan Sebelum Menentukan Seserahan

Pembagian Takir

Takir adalah wadah makanan, takir ini dibuat dari daun pisang dan daun kelapa yang masih muda. Takir dibuat berbentuk seperti kapal. Kemudian takir ini diisi dengan makanan lalu dibagikan kepada para tamu atau para orang tua yang datang. Ini berarti bahwa kedua calon orang tua telah siap menghadapi kehidupan berkeluarga dengan hadirnya keturunan baru. Juga bentuk kapal dari takir tersebut melambangkan bahwa kedua calon orang tua bayi dan bayi tersebut siap mengarungi kehidupan bersama. Selain itu acara ini juga sebagai ungkapan terima kasih kepada para tetua dan undangan yang hadir pada ritual ini.

Jualan Dawet dan Rujak

Acara terakhir dalam ritual Mitoni adalah jual dawet. Dawet sendiri merupakan minuman khas Jawa. Terbuat dari tepung beras atau bisa juga tepung beras ketan. Nantinya dawet disajikan dengan santan kelapa dan gula cair merah. Di sini sang ibu melakukan jual dawet dan rujak kepada para tamu. Karena hanya sebagai simbol saja maka disiapkan juga uang pembayaran yang dibuat secara khusus dari tanah liat. Dengan ritual ini diharapkan bahwa anak yang dilahirkan nanti akan mendatangkan banyak rezeki kepada orang tuanya.

 

Nah, unik juga ya ritual Mitoni ini. Tentunya ritual ini dilakukan dengan maksud dan tujuan yang baik, yaitu berdoa untuk keselamatan dan kelancaran bagi sang ibu dan si bayi. Setiap tahapan prosesinya sarat makna dan manfaat ya! Tentunya ritual ini hingga kini masih banyak yang melestarikannya. Alangkah baiknya agar terus dilestarikan. Sekian artikel kali ini, semoga artikel tersebut bermanfaat ya!

Manfaat dan Makna Pingitan Sebelum Pernikahan

Manfaat dan Makna Pingitan Sebelum Pernikahan

Manfaat dan Makna Pingitan Sebelum Pernikahan

Makna Pingitan Sebelum Pernikahan. – Tentu kamu pernah mendengar istilah ‘pingitan’ kan? Ya, memang sudah menjadi tradisi di sebagian besar masyarakat di Indonesia, terutama di daerah Jawa bahwa sebelum waktu acara pernikahan. Calon pengantin wanita harus mengikuti masa ‘pingitan’. Biasanya seminggu sebelum hari H, calon pengantin harus berada di dalam rumah, tidak boleh ditemui oleh calon pengantin pria. Tentunya bagi pasangan yang sudah benar-benar saling mencintai dan merasa dekat, masa-masa pingitan menjadi ‘siksaan’ tersediri, rasa rindu ingin bertemu, gelisah dan lain-lain sering bercampur aduk. Waktu yang seminggu terasa seperti setahun.

Namun ternyata, masa-masa ‘pingitan’ ini memiliki manfaat dan makna lho, yuk langsung simak saja

Menjaga Stamina Calon Pengantin

Acara di hari pernikahan biasanya memakan waktu yang cukup lama, apalagi jika menggunakan acara adat dengan berbagai kegiatan akan banyak membutuhkan tenaga dan stamina yang prima. Nah di masa pingitan ini, kedua calon pengantin diharapkan benar-benar mempersiapkan diri untuk kegiatan-kegiatan yang akan diadakan. Jangan sampai pada acara pernikahan justru pasangan pengantinnya malah jatuh sakit karena kelelahan.

Baca juga,

Wajib Baca! 4 Tips Tampil Cantik dan Fit di Hari Pernikahan

Menjaga Aura Pengantin Wanita

Selain menjaga stamina dan kebugaran, masa pingitan bisa sebagai masa-masa untuk memanjakan diri dengan perawatan tubuh dan kecantikan calon pengantin wanita khususnya. Dengan berdiam di rumah, tubuh kamu akan terasa lebih segar, ditambah lagi dengan perawatan khusus akan membuat kecantikanmu lebih berpendar saat hari pelaksanaan pernikahan nanti.

Menjaga Rasa Rindu

Rasa  rindu ingin bertemu tentunya akan kamu rasakan di masa-masa pingitan ini. Makin lama waktu pingitan maka rasa rindu bertemu akan terasa lebih kuat, dan nanti akan terbayarkan ketika kamu bertemu dengan pasanganmu di pelaminan di hari pernikahan.  Hal ini tentunya akan terasa lebih membahagiakan bagimu, dibanding jika rasa rindu yang kamu rasakan hanya sedikit saja.

Melatih Rasa Saling Percaya dan Menjaga Diri

Kepercayaan dari kedua belah pihak calon pengantin merupakan hal yang sangat penting nantinya ketiga membina hubungan keluarga. Di masa pingintan ini calon pengantin tetap harus saling menjaga kepercayaan meskipun lama tidak berjumpa. Nantinya ketika benar-benar harus terpisah oleh karena keadaan, masing-masing pihak sudah benar-benar mampu mempercayai pasangannya yang mungkin berada cukup jauh di sana.

Hal-hal yang membahayakan atau merugikan bisa terjadi kapan saja, terlebih kalau kamu berada di luar rumah. Nah kamu dapat lebih menjaga diri jika kamu berada di rumah beserta keluarga. Kamu juga akan belajar menahan diri nantinya sehingga akan tahu mana yang layak kamu kerjakan nanti dengan statusmu yang bukan lajang lagi.

 

Nah, bagaimana? Ternyata manfaat dan makna pingitan sebelum pernikahan dalam juga, ya. Semoga informasi tersebut dapat bermanfaat, ya! Bagi kamu yang perlu foto dokumentasi pernikahan atau acara lamaran dan siraman, bisa banget langsung hubungi Admin AliencoAlienco menyediakan jasa foto dokumentasi pernikahan dan acara lamaran serta siraman. Yuk lihat foto-fotonya di @aliencophoto

Arti di Balik Pasang Padi atau Tuwuhan di Dalam Prosesi Siraman

Arti di Balik Pasang Padi atau Tuwuhan di Dalam Prosesi Siraman

Arti di Balik Pasang Padi atau Tuwuhan di Dalam Prosesi Siraman

Pasang Padi atau Tuwuhan di Dalam Prosesi Siraman. – Sudah tidak asing rasanya jika membahas tentang tradisi pernikahan yang dimiliki oleh Indonesia. Banyaknya suku dan budaya membuat Indonesia kaya akan keragaman tradisi yang unik dan menarik sekali untuk dibahas. Salah satunya adalah tradisi Adat Jawa.

Suku Jawa merupakan suku dengan banyaknya tradisi dan berbagai prosesi yang dimiliki, termasuk juga dalam tradisi pernikahan. Bahkan, saking banyaknya prosesi, prosesi pranikah pun ada lho, yaitu Siraman. Jika membahas tentang prosesi siraman pun akan banyak sekali topik menarik, seperti pasang padi atau tuwuhan.

contoh foto siraman jawa modern jasa tengah yogyakarta
Alienco Photography

Pasang Padi atau Tuwuhan di Dalam Prosesi Siraman ini memiliki makna dan filosofinya lho. Masyarakat Jawa menggambarkan tumbuhan padi sebagai lambang kehidupan pokok. Secara umum, masyarakat Jawa di pedesaan juga banyak yang bertani, sehingga padi adalah sumber kehidupan mereka. Padi juga dianggap memiliki kaitan dengan Dewi Sri yang merupakan Dewi Rumah Tangga dan Dewi Kesuburan. Melalui simbol padi, orangtua disini mengharapkan kehidupan yang bahagia dari kedua mempelai tersebut.

Arti Pasang Padi atau Tuwuhan di Dalam Prosesi Siraman

Setelah sebelumnya kami membahas Makna Dari Pemasangan Bleketepe, prosesi selanjutnya adalah pasang padi atau tuwuhan ini. Tuwuhan memiliki arti tumbuh, yang berisi pengharapan agar kedua pengantin dapat tumbuh dan berbahagia dalam rumah tangganya. Pasang padi atau tuwuhan ini biasanya ada di pintu masuk tempat siraman. Adapun tumbuh-tumbuhan di tuwuhan ini beragam dan artinya pun berbeda masing-masing tumbuhannya. Diantaranya :

  • Pisang Raja Matang

Buah pisang ini sebagai harapan agar calon pengantin sudah mantap dan matang untuk berumah tangga. Pisang ada berbagai macam, dan pisang raja dipilih agar calon pengantin memiliki kemuliaan hati yang seperti raja.

  • Kelapa Cengkir Gadhing 

Sebagai simbolisasi untuk rahim atau kesuburan. Cengkir sendiri merupakan singkatan lho, yaitu kecengin pikir atau persetujuan. Hal ini berarti kedua orangtua mempelai telah menyetujui pernikahan kedua pengantin.

  • Bambu Wulung

Dipilih karena bentuknya lurus,  hitam dan kuat. Bambu Wulung ini nantinya digunakan sebagai penyangga gapura tarub, sebagai lambang dari kekuatan dan kelestarian keluarga.

  • Tebu Wulung

Tumbuhan tebu manis ini dipilih yang berwarna merah, sebagai simbol dari rumah tangga yang menyenangkan. Wulung atau sepuh, memiliki arti agar kedua pengantin memiliki hati yang bijaksana.

  • Janur Kuning

Penjelasan Janur Kuning bisa disimak di Kisah : Asal-Usul & Tutorial Janur Kuning Pernikahan

  • Daun Kluwih

Melambangkan kelebihan, sebagai harapan agar kedua pengantin diberi kelebihan ilmu karena mengutamakan Tuhan.

  • Daun Andong

Dipilih karena terlihat tegar, dan bisa meluruskan batangnya yang bengkok. Daun Andong ini diharapkan agar kedua pengantin dapat meluruskan sifat atau perilaku mereka yang masih bengkok.

  • Daun Girang

Karena warnanya yang cerah dan bersih, Daun Girang ini dipilih karena melambangkan harapan agar mempelai dapat selalu berbahagia.

  • Daun Alang-alang

Sebagai harapan agar kedua pengantin mampu mengatasi dan bertahan dari segala rintangan dalam kehidupan rumah tangga mereka.

  • Daun Opo-opo

Harapan agar selama acara berlangsung akan lancar dan tanpa halangan.

  • Daun Beringin

Sebagai lambang bagi pelindung keluarga.

  • Padi

Harapan agar kedua pengantin selalu diberikan kecukupan dalam kebutuhan pangan dan selalu makmur.

Demikian Arti di Balik Pasang Padi atau Tuwuhan di Dalam Prosesi Siraman, yang banyak mengandung makna, semoga ini dapat menambah wawasan pengetahuan kita semua ya!