Perbedaan Upacara Panggih Jogja dan Panggih Solo

Perbedaan Upacara Panggih Jogja dan Panggih Solo

Ritual Khas Pernikahan Jawa Jogja dan Jawa Solo

Perbedaan Upacara Panggih Jogja dan Panggih Solo. – Kalau membicarakan tentang pernikahan adat Jawa, tentu yang banyak diketahui adalah Adat Jawa Jogja dan Jawa Solo. Tata cara pernikahannya sedikit banyak memang serupa. Bahkan dalam hal busana dan dekorasinya pun sama. Termasuk juga di dalamnya Upacara Panggih. Kedua pernikahan adat tersebut sama-sama melaksanakan Urutan Lengkap Upacara Panggih.

Namun, taukah kamu bahwa terdapat perbedaan Upacara Panggih pada masing-masing tradisi tersebut? Nah, untuk tau apa perbedaan Upacara Panggih Jogja dengan Upacara Panggih Solo, simak penjelasan di bawah ini :

Penjelasan Singkat Upacara Panggih

Upacara Panggih sendiri merupakan pertemuan pengantin pria dengan pengantin wanita yang dilaksanakan pada acara resepsi berdasarkan Adat Jawa. Saat pelaksanaannya, kedua pengantin akan dibantu oleh orangtua yang diarahkan oleh seorang Juru Rias. Pelaksanaan Upacara Panggih ini pun dilaksanakan oleh seluruh tamu undangan lho.

Perbedaan Upacara Panggih Jogja dengan Upacara Panggih Solo

Penyerahan Sanggan

Perbedaan Upacara Panggih

  • Upacara Panggih Jogja

Sanggan merupakan sebuah wadah/bakul yang terbuat dari rotan berbentuk priuk. Isi sanggan pada Upacara Panggih Jogja beragam, yaitu sesisir pisang raja, gambir, kembang telon, suruh ayu, dan lawe wenang. Benda-benda tersebut memiliki maknanya tersendiri lho. Pisang raja memiliki pengharapan agar pengantin akan berwibawa seperti seorang raja. Gambir menjadi tanda bahwa kedua pengantin sudah mantab menikah. Kembang telon yang merupakan raja di taman, diharapkan untuk selalu mengingat nasihat dari kedua orangtuanya. Suruh ayu memiliki arti pengantin agar tampak cantik dan menarik. Terakhir, lawe wenang melambangkan ikatan suci pernikahan kedua pengantin.

  • Upacara Panggih Solo

Sanggan ini kemudian diisi dengan sesisir pisang raja beralaskan kertas keemasan, dan dibawa oleh pihak pengantin pria di barisan terdepan iring-iringan. Secara simbolis, pisang sanggan ini sebagai tanda bahwa pengantin pria ingin menebus pengantin wanita dari keluarganya.

Kembar Mayang

Nah pada tahap Kembar Mayang ini, perbedaan Upacara Panggih Jogja dan Solo terlihat jelas. Pada Upacara Panggih Jogja disebut Kepyok Kembar Mayang, di Upacara Panggih Solo disebut Bertukar Kembar Mayang. Kembar Mayang adalah rangkaian anyaman janur yang dijadikan hiasan.

  • Upacara Panggih Jogja

Pembawa Kembar Mayang pada Upacara Panggih Jogja biasanya budhe atau bibi mempelai pria. Seperti yang disebutkan di atas, pada Upacara Panggih Jogja tahapan ini disebut Kepyok Kembar Mayang. Kata kepyok berarti gerakan ulap-ulap atau bersentuhan. Kembar Mayang disini hanya disentuhkan kepada pengantin pria untuk membuang sial. Setelah disentuhkan, kembar mayang ini kemudian dibuang keluar.

  • Upacara Panggih Solo

Bertukar Kembar Mayang merupakan tahapan yang dilakukan hanya di Upacara Panggih Solo. Kembar Mayang pada Upacara Panggih Solo dibawa oleh 4 orang yang belum menikah, yakni 2 perempuan dan 2 laki-laki. Jika pada Upacara Panggih Jogja kembar mayang tanda membuang sial, pada Adat Solo, kembar mayang dari pengantin pria dibawa masuk dan diletakkan di samping pelaminan.

Oiya, pada Upacara Panggih Solo, pihak mempelai wanita juga membawa kembar mayang. Tapi, kembar mayang ini ditukar dengan milik pengantin pria. Kembar mayang dari keluarga wanita akan dibawa keluar. Nah, kembar mayang inilah yang berarti membuang sial.

Balangan Gantal

Perbedaan Upacara Panggih

Gantal merupakan daun sirih yang di dalamnya terdapat kapur sirih, kemudian diikat dengan benang. Balangan berarti saling melempar. Nantinya kedua mempelai akan saling melempar gantal kepada satu sama lain.

  • Upacara Panggih Jogja

Jumlah gantal pada Upacara Panggih Jogja adalah 7 buah gantal. 4 diantaranya dibawa oleh pengantin pria, dan 3 sisanya dibawa pengantin wanita. Kemudian dilemparkan secara bergantian. Tahapan ini mengartikan awal perkenalan kedua pengantin yang kemudian bersatu dalam ikatan dan kejernihan pikiran.

Perbedaan Upacara Panggih

  • Upacara Panggih Solo

Perbedaan Upacara Panggih

Tahap balangan gantal pada Upacara Panggih Solo ini memiliki ketentuan dari cara pelemparannya lho. Pengantin wanita akan melemparkan gantal-nya kearah kaki pengantin pria sebagai tanda akan menjadi istri yang patuh pada suami. Untuk pengantin pria, gantal dilemparkan ke jantung pengantin wanita sebagai tanda ia akan menjadi suami yang mengayomi istrinya.

Wiji Dadi (Wijikan dan Mecah Endog)

Wijikan berarti membasuh atau mencuci, mecah endog yaitu memecah telur. Pemecahan telur ini memiliki makna hilangnya keperawanan istri oleh suami.

  • Upacara Panggih Jogja

Pengantin wanita akan duduk dan mencuci kaki mempelai pria merupakan tanda pengabdiannya sebagai seorang istri. Dipandu oleh Juru Rias, telur yang ada sebelum dipecahkan akan disentuhkan terlebih dahulu ke dahi pengantin wanita. Kemudian diletakkan di baki yang disiapkan untuk mencuci kaki pengantin pria dan dipecahkan..

  • Upacara Panggih Solo

Bedanya dengan Upacara Panggih Jogja adalah telur ini dipecahkan sendiri oleh pengantin pria. Caranya dengan meletakkan telur di atas baki, yang kemudian diinjak oleh pengantin pria yang berdiri di depan pengantin wanita yang sedang duduk. Setelah telur dipecahkan, pengantin wanita akan membasuh dan membersihkan kaki suaminya.

Setelah membersihkan, akan ada yang namanya Junjung Drajat, yaitu suami akan membantu istrinya untuk berdiri. Disini berarti harkat, martabat, dan derajat keduanya setara.

Kalau di atas adalah Urutan Upacara Panggih yang sama namun pada pelaksanaannya berbeda, proses selanjutnya sangat berbeda :

 Upacara Panggih Jogja

  • Penyerahan Sanggan

  • Kembar Mayang

  • Balangan Gantal

  • Wiji Dadi (Wijikan dan Mecah Endog)

  • Menuju Pelaminan dengan Kelingking Saling Terkait

Kelingking kanan pengantin wanita akan saling terkait dengan kelingking kiri pengantin pria. Kemudian keduanya akan berjalan menuju ke pelaminan bersama-sama. Tahapan ini melambangkan tanggung jawab pengantin wanita sudah bukan lagi milik orangtuanya tetapi milik suaminya.

  • Tampa Kaya

Diisi dengan biji-bijian hingga uang logam, tampa kaya ini adalah lambing nafkah yang diberikan oleh suami kepada istri. Istri berkewajiban untuk sebijak mungkin dalam mengelola harta yang diberi dari suami. Saat proses pemberian harta ini, diusahakan untuk tidak berceceran. Karena tercecer merupakan lambang dari pemborosan.

Setelahnya dilanjutkan dengan memberikan tampa kaya tersebut kepada orangtua. Hal ini mengandung arti bahwa anak berbakti dan akan membantu apabila orangtua membutuhkan bantuan.

  • Dhahar Klimah

Pada tahap ini, pengantin pria akan membuatkan 3 kepal nasi yang kemudian nasi tersebut akan dimakan oleh pengantin wanita. Dhahar dalam bahasa Indonesia berarti memakan.

  • Mapag Besan

Disini orangtua pengantin wanita akan menjemput orangtua pengantin pria. Mapag berarti menjemput, dan Besan adalah orangtua menantu. Proses ini sebagai lambang kerukunan kedua belah pihak.

  • Sungkeman

Perbedaan Upacara Panggih

Puncak dari Upacara Panggih Jogja adalah sungkeman. Kedua pengantin akan sungkem kepada orangtua sebagai ucapan terimakasih untuk kasih sayang orangtua dan permohonan maaf atas kesalahan mereka. Penting diketahui, sebelum melakukan sungkeman, pengantin pria harus meletakkan kerisnya terlebih dahulu.

Baca juga,

Urutan Lengkap Upacara Panggih, Ritual Khas Pernikahan Jawa

Upacara Panggih Solo

Video Upacara Panggih Solo

  • Penyerahan Sanggan

  • Kembar Mayang

  • Balangan Gantal

  • Wiji Dadi (Wijikan dan Mecah Endog)

Urutan Lengkap Upacara Panggih

  • Sinduran

Pada prosesi ini, kedua mempelai akan berdiri berdampingan dan diselimuti kain sindur oleh ibu mempelai wanita. Ujung dari kain sindur akan dipegang oleh ayah mempelai wanita. Kain Sindur merupakan selendang kain berwarna merah putih. Dibantu oleh sang ibu yang mendorong dengan memegang bahu pengantin dari belakang, kedua pengantin dipimpin sang ayah berjalan ke pelaminan. Hal ini melambangkan bimbingan sang ayah, dan dukungan dari ibu untuk rumah tangga kedua pengantin.

  • Pangkon Timbang

Ayah mempelai wanita akan duduk di pelaminan, kemudian kedua mempelai akan duduk masing-masing di paha sang ayah. Tahapan ini melambangkan bahwa ayah mempelai wanita sedang menimbang kasih sayang untuk kedua pengantin. Lalu ibu mempelai wanita akan bertanya pada sang ayah, “Berat yang mana pak?” yang dijawab sang ayah “Sama saja.” Ini berarti sang ayah akan memberikan kasih sayang seakan-akan keduanya adalah anaknya sendiri.

  • Tanduran/Tanem Jero

Disini sang ayah akan mendudukan kedua pengantin di pelaminan sembari memegang bahu keduanya. Seolah-olah seperti menanam/menancapkan keduanya sesuai dengan posisi masing-masing di rumah tangga.

  • Kacar Kucur

Perbedaan Upacara Panggih tahap ini hanya dari sebutannya saja, pada Upacara Panggih Jogja menyebut tampa kaya. Sedangkan disini tampa kaya adalah lambang hartanya, dan kacar kucur nama prosesinya. Nantinya mempelai wanita akan menerima harta yang diberikan suami dengan kacu gembaya. Setelah tampa kaya dituangkan, kemudian kacu gembaya diikat dan diberikan kepada ibunya. Ini memiliki makna bahwa saat mendapat rejeki, juga tak lupa dan berbagi pada orangtua.

  • Dulangan/Suap-suapan

Perbedaan Upacara Panggih

Berbeda dengan Upacara Panggih Jawa, pada proses ini kedua mempelai akan saling menyuapi nasi satu sama lain. Memiliki makna suami istri saling berbagi, kompak, dan saling menghargai.

  • Ngunjuk Tirta Wening

Setelah saling menyuapi, keduanya akan bersama-sama meminum air putih. Hal ini untuk melambangkan harapan kejernihan hati bagi keduanya.

  • Mapag Besan

  • Sungkeman

Perbedaan Upacara Panggih

Untuk mapag besan dan sungkeman tidak terdapat perbedaan Upacara Panggih Solo dengan Upacara Panggih Jogja. Prosesi dan maknanya juga sama.

Nah, meski terlihat serupa, ternyata lumayan banyak ya perbedaannya. Bahkan meski beberapa rangkaian pada Upacara Panggihnya sama, namun berbeda pada proses pelaksanaannya. Menarik sekali ya! Sekali lagi kita semakin menyadari keanekaragaman budaya di Indonesia meski hanya melihat dari prosesi pernikahan saja. Semoga bermanfaat ya!

5 Pernikahan Adat Yang Tren Tiap Tahun

5 Pernikahan Adat Yang Tren Tiap Tahun

5 Pernikahan Adat Yang Tren Tiap Tahun

Prosesi pernikahan memang momen yang sakral bagi pasangan pengantin yang menikah, tapi juga menjadi momen berkesan bagi tamu undangan. Melihat indahnya dekorasi pelaminan dan konsep pernikahan yang menjadi tema pilihan. Merasakan berbagai sajian makanan yang beragam, entah makanan tradisional atau pun kekinian. Tentu punya ciri khasnya masing-masing. Terlebih bagi tamu undangan yang menghadiri pernikahan dengan konsep tradisional. Berbagai prosesi adat yang dilangsungkan tentunya menarik untuk diliat dan diabadikan.

Jika membahas tentang pernikahan dengan prosesi adat tentu tiada habisnya. Apalagi dengan banyaknya suku dan kebudayaan yang ada di Indonesia, tentu prosesi adatnya pun beragam. Prosesi pernikahan adat apa saja sih yang pernah kalian hadiri? Apakah pernikahan Adat Batak? Atau Adat Solo, mungkin juga Adat Manado?  Masing-masing kebudayaan tersebut nggak hanya dari tahapan prosesi pernikahannya aja lho yang berbeda. Namun juga busana, dekorasi pelaminan, hingga sajian makanannya pun punya ciri khas unik dan wajib juga dilestarikan.

Banyaknya ragam prosesi pernikahan adat di Indonesia, pasti ada beberapa yang tampak sering digunakan sebagai konsep utama sebuah pesta pernikahan, kan? Bagi pasangan yang lebih memilih menggunakan konsep modern pada pernikahannya, bisa juga lho mempertimbangkan prosesi tradisional. Nah berikut ini Alienco akan membagikan beberapa prosesi pernikahan yang mungkin banyak dari kalian sudah ketahui dan pasti temui tiap tahunnya. Yuk simak 5 Pernikahan Adat Yang Tren Tiap Tahun di bawah ini :

Adat Jawa Yogyakarta dan Adat Jawa Solo

Sudah bukan rahasia lagi jika Pulau Jawa merupakan pulau yang paling padat penduduknya di banding pulai Indonesia yang lain. Suku yang mendiami Pulau Jawa beragam lho, ada Suku Jawa, Suku Sunda, Suku Betawi, Suku Baduy, dan suku pendatang  pulau lain. Tentunya prosesi pernikahan dengan Adat Jawa Yogyakarta atau Jawa Solo adalah yang paling sering dijumpai. Pernikahan adat yang tren tiap tahun dipuncaki oleh Adat Jawa nih. Meski banyak tradisi pernikahan di tiap daerah DIY dan Jawa Tengah, banyak pengantin memilih Adat Jawa Yogyakarta atau Jawa Solo tersebut. Prosesi yang harus dilalui pengantin pun tidak hanya pada hari H pernikahan saja, bahkan pra pernikahan pun ada. Misalnya calon pengantin wanita harus dipingit dalam waktu tertentu, melakukan prosesi siraman juga. Bagi calon pengantin pria prosesi pemberian seserahan juga dilakukan saat pra pernikahan.

Setelah itu beragam tahapan prosesi di hari pernikahan juga harus dilaksanakan. Seperti rangkaian ritual panggih. Bahkan di dalam ritual ada ritual lagi lho. Nah di dalam ritual panggih ada sanggan, balangan gantal, wijikan lan mecah endog, ngombe degan, dan seterusnya. Dari sekian banyaknya prosesi, memang tidak semuanya dilakukan. Banyak pengantin yang memilih beberapa prosesi saja untuk dilaksanakan, namun tidak mengurangi makna yang ada. Yang jelas semua prosesi tersebut memiliki makna dan harapan yang baik untuk pengantin yang menikah.

Tidak hanya prosesi saja yang dijalani. Kedua pengantin juga menggunakan busana khas suku tersebut sebagai busana pengantin. Busana pengantin pria Adat Jawa ini disebut Jawi Rangkep. Bagian atas menggunakan baju beskap, dilengkapi stagen, blankon, kain jarik, hingga keris. Sedangkan pengantin wanita, busana pengantinnya menggunakan kebaya dengan kain kemben sebagai penutup dada. Kain jarik juga digunakan sebagai bawahan bagi pengantin wanitanya. Oiya, untuk aksesoris kepala, biasanya pengantin wanita disanggul dilengkapi dengan riasan wajah yang khas wanita Jawa.

Baca juga Urutan Lengkap Upacara Panggih, Ritual Khas Pernikahan Jawa 

Adat Sunda

Masih di Pulau Jawa, kali ini prosesi pernikahan adat yang tren berikutnya adalah prosesi pernikahan Adat Sunda. Walau sama-sama di Pulau Jawa, namun Suku Sunda yang kebanyakan mendiami wilayah Jawa Barat ini memiliki prosesi sendiri lho. Prosesi Adat Sunda juga memiliki tradisi pemberian seserahan, namun dengan ketentuan yang berbeda dari seserahan Adat Jawa. Ada juga ritual ngeyeuk sereuh yang biasa dilakukan bersamaan dengan penyerahan seserahan. Ngeyeuk sereuh sendiri adalah prosesi dimana kedua calon pengantin meminta doa dan restu orang tua. Biasanya digelar di rumah pihak wanita. Saat hari H pernikahan, prosesi yang harus dijalani juga lumayan banyak nih. Misalnya sawer, meuleum harupat, nincak endog,dan seterusnya.

Untuk busana pengantin Adat Sunda, pengantin pria akan menggunakan Jas Buka Prawegdana. Sedangkan pengantin wanita menggunakan kebaya yang biasanya berbahan brokat. Warna busana pengantinnya juga diselaraskan antara keduanya. Dilengkapi dengan bawahan kain batik yang juga senada. Untuk aksesoris kepala sendiri pengantin wanita menggunakan bendo berhiaskan permata.

Baca juga Mengenal Jumlah Seserahan dari Etnis Jawa, Sunda, dan Tionghoa

Adat Palembang

Pernikahan adat yang tren selanjutnya banyak digelar berasal dari Pulau Sumatera nih, yaitu Adat Palembang. Kalau dilihat secara visual, prosesi Adat Palembang menunjukkan khas keagungan budaya dari kerajaan Sriwijaya. Kita tentu tau bagaimana kejayaan kerajaan Sriwijaya pada masa lampau. Hal ini tergambar pada warisan budayanya, terutama pada ritual dan busana pengantin Adat Palembang.

Sebelum menentukan pasangan, pihak pria akan melakukan penelitian yang terselubung. Ini bertujuan untuk mengamati calon wanitanya, apakah bertabiat baik dan baik tidaknya kebiasaannya. Bahkan kecantikan, hingga ketaatan beribadahnya juga menjadi indikator yang dilihat pihak pria. Kemudian ada milih calon, madik, tunangan, berasan, mutuske kato, ngaterke belanjo. Nah semua tahapan itu ada pada pra pernikahan yang dilanjutkan ke persiapan pernikahan. Akad Nikah menjadi tahapan selanjutnya yang kemudian dilakukan munggah. Munggah ini dilaksanakannya di kediaman pengantin wanita. Acara munggah ini ibarat ngunduh mantu. Saat resepsi pernikahan pun akan ada Tarian Pagar Pengantin.

Masih dengan khas peninggalan Sriwijaya, busana pengantin Adat Palembang berkaitan erat dengan hal tersebut lho. Nama busananya adalah aesan gede dan aesan paksangko. Keduanya memiliki perbedaan. Aesan gede pengantinnya menggunakan dodok dengan songket khas Palembang yang ditutupi terate. Kalau aesan paksangko, kalian mungkin akan terpesona dengan keanggunannya nih! Karena pengantin menggunakan baju kurung. Warna merah dengan aksesoris emas menjadi ciri khasnya. Dilengkapi juga dengan terate sama seperti aesan gede. Kepala pengantin pun turut dihiasi aksesoris untuk melengkapi penampilannya. Pada aesan gede pengantin wanita akan menggunakan sebuah mahkota karsuhun. Sedangkan pengantin pria menggunakan kopiah cuplak. Selendang sawit juga disilangkan pada bahu  pengantin. Selanjutnya pada aesan paksangko, akseoris kepala wanita banyak dihiasi bunga-bungaan. Seperti kembang goyang, kembang kenango, dan banyak lagi. Aksesoris pengantin pria menggunakan selempang dari songket serta kopiah yang berwarna emas.

Adat Minangkabau

Berikutnya adalah pernikahan Adat Minangkabau, pernikahan Adat Minangkabau tentu saja masuk ke dalam list pernikahan adat yang tren tiap tahun. Nah kalau ini sih berasal dari provinsi Sumatera Barat. Walau begitu tahapan prosesi yang dilalui tidak sebanyak dengan prosesi pada Adat Jawa lho ternyata. Pada pra pernikahan, pengantin wanita akan melalui malam binai, atau malam dimana gadis Minang melepas masa lajangnya. Kemudian akan ada beragam prosesi lanjutan, yaitu manjapuik marapulai, balantuang kaniang, mangruak nasi kuniang, dan seterusnya. Yang menjadi ciri khas tentu saja dekorasi yang menyerupai rumah adat Sumatera Barat untuk pelaminannya.

Bagi pengantin Adat Minangkabau, yang paling dikenal pada busananya tentu saja sunting yang ada pada aksesoris kepala pengantin wanita. Selain itu baju kurung dan sarung balapak juga merupakan khas Adat Minangkabau lho. Pada sunting sendiri juga beragam jenisnya bergantung pada daerah Minangnya. Contohnya sunting pisang saparak untuk Solok Salayo, suntiang sariantan untuk daerah Padang Panjang, dan sebagainya.

Artikel terkait Mengabadikan Keunikan Prosesi Pernikahan Adat Minangkabau Ala Alienco 

Adat Batak

Berbicara tentang pernikahan adat yang tren tiap tahunnya tentu tidak lupa pernikahan Adat Batak. Pernikahan Adat Batak pun sering kita jumpai sebagai konsep pernikahan adat kan? Nah prosesi pernikahan Adat Batak sendiri ternyata juga memiliki beberapa prosesi berdasarkan etnisnya. Batak Toba dengan Batak Karo punya prosesi sendiri, begitu juga dengan Batak Mandailing. Namun pada umumnya, pernikahan Adat Batak selalu digelar di wedding venue lho. Tidak digelar di kediaman salah satu pengantin, melainkan menyewa gedung khusus untuk pernikahan. Jika tidak gedung, Adat Batak juga biasa digelar di ballroom hotel. Yang jelas selalu di tempat khusus.

Persamaan pada prosesinya berkaitan dengan kain khas Sumatera Utara, yaitu kain ulos. Ada sebuah prosesi pengalungan kain ulos, atau bisa disebut mangulosi. Kain ulos sendiri selain khas daerah, ternyata juga memiliki makna yang mendalam bagi Suku Batak. Berdasarkan sejarah ulos, kain ini diharapkan bisa memberikan kehangatan serta mengayomi si pemakai. Makna dari mangulosi tersebut adalah perlindungan, karena dikalungkan pada kedua pengantin berharap dapat melindungi keduanya. Juga bermakna kasih sayang dari pemberi kepada pemakai, yaitu kedua pengantin. Benar-benar bermakna ya!

 

Nah menarik banget ya! Keberagaman tersebut dengan segala keunikan dan ciri khasnya pantas saja banyak menjadi pilihan pengantin untuk konsep pernikahannya. Tapi tentu saja perlu diingat pernikahan adat yang ada di Indonesia tidak hanya itu saja ya! Untuk melihat berbagai foto-foto pernikahan adat yang menarik yuk kunjungi @aliencophoto

Halo! Klik dibawah ini untuk melakukan chat via WhatsApp dengan Renny.

Chat dengan kami via WhatsApp