Prosesi Pernikahan Adat Aceh, Ini Dia Tahapan Lengkapnya!

Prosesi Pernikahan Adat Aceh, Ini Dia Tahapan Lengkapnya!

Mengenal Prosesi Pernikahan Adat Aceh Yuk!

Berbicara tentang budaya di Indonesia rasanya tidak habis-habis ya. Sempat beberapa kali Alienco sudah membahas berbagai prosesi pernikahan, seperti Adat Jawa, Adat Padang, dan lain-lain. Meski sudah banyak dibahas, masih saja ada pernikahan Adat lain yang menarik juga untuk diulas. Tidak heran karena Indonesia bahkan memiliki lebih dari seratus suku dan budaya, ratusan! Salah satu yang akan kami bahas kali ini adalah Prosesi Pernikahan Adat Aceh.

Aceh, merupakan suatu daerah yang berada di ujung utara Pulau Sumatera. Memiliki daerah provinsi sendiri, yaitu Provinsi Aceh dengan ibukota Banda Aceh. Kebudayaan Aceh sangat beragam, begitu juga soal prosesi pernikahannya. Banyak sekali tahapan yang harus dilalui oleh calon pengantin. Apa saja ya? Yuk simak Tahapan Lengkap Prosesi Pernikahan Adat Aceh di bawah ini :

Prosesi Pernikahan Adat Aceh

Jak Keumalen, Merintis Jalan

Seperti yang disebutkan di atas Jak Keumalen memiliki arti merintis jalan. Bagi masyarakat Aceh ini berarti pihak keluarga calon pengantin laki-laki akan datang untuk silaturahmi dan mengamati calon pengantin wanita pilihan. Keluarga calon pengantin laki-laki atau yang disebut Linto Baro ini akan mengamati keluarga dan juga bagaimana lingkungan si calon wanita. Tidak alih-alih datang dan mengamati, namun juga membawa bingkisan yang disebut Bungong JaroeBungong Jaroe ini isinya makanan.

Linto Baro ini nantinya juga akan bertanya apakah calon wanita sudah ada yang punya atau melamar atau belum. Hal ini penting ditanyakan untuk sebelum melangkah ke tahap selanjutnya. Karena bila sudah menerima pinangan lain, tentu pihak calon pengantin laki-laki yang datang berikutnya tidak boleh melamar lagi. Namun, jika sambutan yang diberika pihak calon wanita baik, maka itu artinya si calon wanita belum ada yang memiliki.

Jak Ba Ranub, Meminang

Saat tahap Jak Ba Ranub ini, nantinya utusan khusus atau theulangke pihak laki-laki akan menjadi penyampai pesan kepada keluarga calon wanita. Theulangke akan menyampaikan maksud dari calon pengantin laki-laki untuk melamar Dara Baro (calon wanita). Keluarga pihak laki-laki akan membawakan bingkisan yang diisi sirih, dan lain-lain. Nantinya setelah theulangke pulang, baru keluarga besar calon wanita akan mendiskusikan, apakah akan menerima pinangan atau tidak.

Sebagai tanda lamaran diterima, pihak wanita akan menjawab dengan “Insha Allah.”, apabila tidak menerima lamaran akan memberikan alasan yang tidak menyinggung. Biasanya akan mengucapkan “Hana get lumpo.” yang artinya mendapat mimpi yang kurang baik. Karena di masa lampau, masyarakat Aceh percaya akan makna mimpi. Kepercayaan ini masih dipercayai hingga saat ini dalam menentukan menerima lamaran atau tidak.

Jak Ba Tanda

Setelah lamaran diterima, dilanjut ke tahapan Jak Ba Tanda, atau tunangan. Pihak laki-laki akan datang mengantarkan berbagai macam bingkisan sebagai seserahan, biasanya berisi makanan tradisional Aceh dan Buleukat Kuneeng, dan sebagainya. Hampir sama dengan seserahan pada umumnya. Barang-barang seserahan ini diletakkan di wadah yang disebut Dolong yang dihias. Dilanjutkan dengan prosesi pembahasan acara pernikahan, berapa mahar yang diajukan pihak wanita, dan sebagainya.

Prosesi Pernikahan Adat Aceh

Setelah tahapan merintis jalan, melamar, dan tunangan selesai, ada juga prosesi yang harus dilakukan ketika jelang pernikahan, yaitu :

Malam Boh Gaca

Pernah dengar Malam Bainai dalam tradisi Adat Minang kan? Masyarakat Aceh punya yang disebut Malam Boh Gaca, Malam Berinai, atau Malam Peugaca. Prosesi ini dijalani oleh calon mempelai selama 3 sampai 7 hari. Malam ini merupakan acara selamatan dengan pembacaan doa dan pemberian nasihat oleh sesepuh Adat Aceh yang kemudian disertai oleh keluarga kedua calon pengantin. Pada Malam Boh Gaca ini memiliki makna untuk mengharapkan keberkahan, kemudahan, dan rejeki yang dilancarkan oleh Tuhan.

Perlengkapan yang digunakan untuk melengkapi acara ini juga beragam lho. Nantinya akan disiapkan daun pacar dan berbagai hal lainnya yang akan ditempatkan di piring berhias, kemudian ditaruh dalam Daleung pada tikar sulaman khas Aceh. Dalam hal busana juga, nantinya Dara Baro akan menggunakan pakaian yang berbeda-beda dan selalu berganti selama pelaksanaan Malam Boh Gaca.

Pembersihan Diri

Kalau di Prosesi Pernikahan Adat Aceh, bagian ini sendiri terdiri dari beberapa tahapan, yaitu :

  • Koh Gigo, Meratakan Gigi

Untuk sekedar pengetahuan, pada masa kini prosesi Koh Gigo ini sudah sangat jarang dilakukan. Namun, Dara Baro pada masa lampau harus melalui tahapan ini lho. Dimana Dara Baro akan berbaring di kasur kemudian giginya akan dikikir agar rata. Prosesnya pun sangat tradisional tanpa obat bius, setelah dikikir gigi akan dibersihkan dengan sabut kelapa dan berkumur. Tujuan dari tahap ini adalah untuk memberikan kesan cantik Dara Baro dan memperkuat gigi.

  • Koh Andam, Memotong Rambut Halus

Di sini akan ada perias yang bertugas mencukur bulu-bulu halus pada bagian wajah serta tengkuk Dara Baro. Tujuannya untuk menghilangkan hal-hal yang kurang baik dengan menggantinya dengan kebaikan dan berkah baru. Bulu yang sudah dicukur akan ditempatkan di dalam kelapa hijau yang sudah diukir dan ada airnya. Kelapa ini kemudian ditanam di bawah Cuco Buhong atau pohon rindang.

  • Seumano Dara Baro, Memandikan Kedua Mempelai

Memandikan kedua mempelai ini dilakukan oleh pemuda Adat, orangtua calon pengantin, serta sanak saudara, jumlahnya harus ganjil. Upacara mandi ini diisi dengan doa-doa yang mengharapkan kesucian lahir batin menjelang pernikahan. Dipimpin oleh sesepuh Adat, orangtua mempelai akan memulai upacara mandi yang dilanjutkan oleh keluarga lainnya. Air khusus akan disiramkan dari atas kepala, bahu kanan kemudian kiri, baru seluruh badan, dan kaki. Upacara mandi ini pada masa lampau hanya dilakukan bangsawan. Namun pada masa kini masyarakat umum juga boleh melakukannya.

  • Khatam Al Qur’an

Dipimpin oleh guru ngaji, Dara Baro akan dibimbing untuk membacakan ayat-ayat suci Al Qur’an. Kemudian Dara Baro akan menyalami dan berterimakasih, serta memohon maaf kepada guru ngajinya. Disertai juga meminta doa restu kepada sang guru ngaji. Yang selanjutnya akan melakukan proses yang sama kepada orangtua, keluarga, dan sanak saudara terdekat. Ditutup dengan pemberian telur, beras, padi, bereteh, dan uang sedekah untuk guru ngaji oleh Dara Baro.

Baca juga,

Perbedaan Upacara Panggih Jogja dan Panggih Solo

Hari Pernikahan

  • Acara Meugatib

Nah ini dia puncak Prosesi Pernikahan Adat Aceh, pada tahap ini nantinya Linto Baro akan dibawa ke rumah Dara Baro. Dara Baro akan menggunakan busana pengantin Aceh dengan dibimbing oleh pendamping yang disebut peunganjo untuk sungkem ke orangtua. Kemudian Dara Baro akan duduk di pelaminan untuk menunggu kedatangan Linto Baro. Sama seperti Dara Baro, Linto Baro juga mengenakan busana pengantin lengkap dan juga melakukan sungkem demi mendapatkan restu orangtuanya.

Ada yang sedikit mirip dengan tradisi pernikahan Betawi nih, yaitu berbalas pantun! Ya benar, pada prosesi ini nantinya pihak laki-laki akan dijemput perwakilan pihak wanita di depan rumah setidaknya 500 meter jaraknya. Kemudian berbalas pantun atau seumapa ini dilakukan. Jika salah satu pihak ada yang kalah, baru dilanjutkan ke tahap bertukar sirih oleh sesepuh kedua pihak pengantin. Baru rombongan Linto Baro akan dipersilahkan masuk ke kediaman Dara Baro.

  • Tueng Dara Baro

Didampingi dengan peunganjoDara Baro beserta rombongan akan datang ke rumah mertua membawa berbagai kue dalam Dalong berhias dengan kain penutup emas. Sama halnya dengan penyambutan Linto Baro ke Dara Baro, hanya saja tanpa pantun. Kemudian kedua rombongan bertukar sirih. Dara Baro akan dipersilahkan masuk, kemudian ibunda dari pengantin laki-laki akan melakukan tepung tawar. Dilanjutkan dengan sungkem Dara Baro kepada mertuanya.

Dara Baro nantinya akan menginap di rumah mertua selama 7 hari, didampingi dengan peunganjo. Baru kemudian diantar pulang ke rumah orangtuanya dibekali busana, bahan makanan, uang idang, dan berbagai barang lainnya.

Wah, panjang juga prosesi yang harus dilalui oleh pengantin Adat Aceh. Namun, tentu saja segala tahapan yang dilakukan dalam prosesi pernikahan Adat Aceh tersebut sarat makna dan kebaikan demi kedua mempelai. Berminat untuk mengabadikan momen-momen tersebut bersama Alienco? Kamu bisa menghubungi Admin Alienco untuk keperluan dokumentasi momen pernikahanmu lho. Apapun prosesinya jangan lupa hubungi Alienco 🙂 Semoga artikel tersebut bermanfaat ya, selamat berbahagia para calon pengantin!

Halo! Klik dibawah ini untuk melakukan chat via WhatsApp dengan Renny.

Chat dengan kami via WhatsApp