9 Mitos Pernikahan Jawa Ini Banyak Dipercaya Oleh Masyarakat

9 Mitos Pernikahan Jawa Ini Banyak Dipercaya Oleh Masyarakat

Percaya atau Tidak? Ini Dia 9 Mitos Pernikahan Jawa yang Banyak Dipercaya

9 Mitos Pernikahan Jawa. – Jangan duduk di depan pintu, pamali! Jangan bangun siang nanti rejekinya dipatuk ayam!

Tentu beberapa dari kalian pernah mendengar hal-hal tersebut dari orang tua atau nenek kakek kalian kan? Hal tersebut merupakan beberapa contoh mitos yang beredar di masyarakat dan kebanyakan juga masih dipercayai kebenarannya. Sebenarnya benar atau tidaknya, ungkapan tersebut mengandung makna yang baik kok. Seperti tidak boleh duduk di depan pintu, karena memang menghalangi orang yang akan lewat. Kemudian jika bangun siang maka rejeki bisa saja diambil orang lain.

Nah kali ini Alienco akan membahas beberapa mitos, tapi mitos pernikahan, yaitu mitos pernikahan Jawa. Mitos pernikahan di bawah ini kebanyakan masih diyakini dan banyak dilakukan oleh masyarakat Jawa sebelum melangsungkan pernikahan. Apa aja sih? Yuk langsung simak saja mitos pernikahan Jawa di bawah ini :

foto pengantin

Pernikahan Siji karo Telu Tidak Boleh

Bagi masyarakat umum mungkin mitos Jawa berikut tidak terlalu diambil pusing. Bahkan sebagian besar masyarakat Jawa yang tidak terlalu menganut adat sendiri tidak terlalu mempermasalahkan hal ini. Ada mitos pernikahan Jawa yang mengatakan bahwa anak pertama tidak boleh memiliki pasangan yang merupakan anak ketiga di keluarganya. Dalam mitos Jawa hal ini sangat dihindari.

Loh kenapa? Asal mitos pernikahan tersebut dari mana? Bagi orang tua yang masih mempertahankan budayanya mengatakan hal ini sudah menjadi aturan dari leluhur terdahulu. Ketika leluhur masih hidup aturan ini sudah ada, sehingga harus dituruti oleh keturunan-keturunan sukunya. Alasan yang mendasari menurut mereka adalah perbedaan karakter anak pertama dengan anak ketiga. Perbedaan karakter tersebut dipercayai tidak akan cocok karena terlalu berbeda.

Kalau mengabaikan mitos tersebut dan menikahkan anak pertama dengan anak ketiga, apa yang akan terjadi? Nah masyarakat Jawa percaya bahwa hal tersebut akan mendatangkan musibah ke dalam keluarganya. Masalah dan cobaan akan terus berdatangan kepada keluarga yang tetap menikahkan anak pertama dengan anak ketiga. Seram juga ya!

Pernikahan Siji Jejer Telu Tidak Boleh

Ada lagi nih pernikahan yang dilarang. Jika sebelumnya tentang anak pertama dengan anak ketiga, kali ini berbeda. Mitos pernikahan Jawa ini mengatakan calon mempelai yang sama-sama anak pertama tidak boleh menikah. Kenapa? Mereka tidak boleh menikah jika salah satu orang tuanya juga merupakan anak pertama di keluarganya. Kalau orang tuanya tidak ada yang anak pertama boleh-boleh saja mereka menikah.

Jadi arti dari Siji Jejer Telu adalah satu berjajar atau berurut tiga kali. Adanya status anak pertama tiga sangat dilarang. Sama seperti pernikahan Siji Karo Telu alasannya. Yaitu jika tetap memaksa untuk menikah, maka kesialan dan musibah akan menimpa keluarga tersebut.

Baca juga,

Tradisi Adat Jawa : Jangan Menikah Pada 4 Waktu Ini!

cincin pernikahan

Tidak Boleh Memindahkan Cincin Ke Jari Lain

Kali ini mitos pernikahan Jawa yang berkaitan dengan cincin tunangan. Pada mitos pernikahan Jawa kali ini, masyarakatnya mempercayai bahwa cincin tunangan adalah pembawa keberuntungan. Cincin yang diberikan oleh pihak pria kepada wanitanya sejak hari pemasangan tidak boleh dipindahkan.

Sekali dipasang di jari manis wanita, si wanita tidak boleh memindahkannya ke jari lain. Nah baru dipercaya bahwa cincin tersebut membawa keberuntungan. Cincin itu tidak boleh dipindahkan hingga hari H pernikahan. Namun jika terlanjur memindahkannya sebelum hari, maka keberuntungan tidak akan datang dan berganti kesialan.

Tentu saja hal tersebut hanya berdasarkan kepercayaan saja. Secara umum tentu saja jodoh siapapun sudah ditentukan oleh Tuhan. Msyarakat umum mengatakan kesialan tersebut haruslah dihadapi oleh kedua mempelai bersama-sama. Maka kemudian kebaikan akan menyertai langkah keduanya.

Baca juga,

Sebagai Simbol Pernikahan, Sejarah Cincin Yang Wajib Kamu Ketahui!

Hadiah Pernikahan

Membawa hadiah untuk pengantin saat diundang ke acara pernikahan tentu sudah semacam menjadi kebiasaan saat ini. Hadiah-hadiah tersebut biasanya diberikan ketika tamu mengisi daftar hadir. Isinya pun beragam, seperti pakaian pasangan dan barang-barang lainnya. Entah apapun isi kadonya, ada mitos Jawa yang mungkin baru kalian ketahui nih.

Berdasarkan mitos Jawa, kado yang dibuka pertama kali adalah yang dipakai untuk pertama kali juga. Maknanya adalah awal atau permulaan kehidupan baru bagi kedua pasangan. Hal ini juga dipercaya membawa keburuntungan bagi keluarga pengantin baru tersebut lho.

adat jawa

Menyamakan Tanggal Pernikahan Dengan Tanggal Lahir

Sudah menentukan tanggal pernikahan? Pertimbangan apa yang kalian lakukan saat akan memilih tanggal pernikahan? Bagi masyarakat Jawa, penentuan tanggal pernikahan adalah tahap paling penting dan dilakukan dengan sangat hati-hati. Orang tua mempelai biasanya tidak hanya berunding dengan kedua mempelai saja, namun biasanya meminta pendapat sesepuh di keluarga.

Sebelum menentukan tanggal pernikahan banyak yang dipertimbangkan. Karena masyarakat Jawa memiliki waktu tertentu di tanggal dan bulan yang dilarang diadakannya pernikahan. Salah satunya adalah menikah di hari yang sama dengan tanggal lahir mempelai. Biasanya orang akan memilih tanggal yang sama dengan kelahiran karena sangat bermakna. Nah pada mitos pernikahan Jawa, jika menikah di tanggal yang sama dengan tanggal lahir mempelai pria maka akan memperoleh keberuntungan. Kedua mempelai juga akan terhindar dari musibah serta selalu mendapatkan kebaikan.

Larangan Menikah di Bulan Syuro

Kalian tentu tau bahwa masyarakat Jawa memiliki hitungannya sendiri dalam pertanggalan. Nama bulannya pun khas dan tentunya ada mitos yang menyertai. Mitos pernikahan Jawa mengatakan bahwa menikah di bulan Syuro itu dilarang. Dalam Islam bulan Syuro adalah bulan Muharram. Pernikahan pada bulan tersebut sebaiknya dihindari. Mitos pernikahan Jawa tersebut berkaitan erat dengan sejarah dan kepercayaan masyarakat Jawa pada Leluhurnya.

Masyarakat Jawa sangat mempercayai bahwa bulan Syuro adalah bulan dimana Ratu Pantai Selatan tengah mengadakan hajatan. Maka dari itu masyarakat harus menghormatinya dan tidak boleh mengadakan hajatan, sebagai contoh pernikahan. Karena bulan Syuro adalah bulan yang keramat bagi masyarakat Jawa. Jika bersikeras menikah di bulan tersebut dan melanggarnya, dipercaya bahwa musibah dan malapetaka akan datang. Musibah itu dipercaya akan menimpa pasangan yang menikah beserta keluarga besarnya.

Weton Jodoh

Berikutnya adalah weton jodoh. Bagi kalian yang bukan orang Jawa tentu asing dengan istilah ini, karena hanya benar-benar berasal dari Jawa. Weton jodoh adalah perhitungan yang dilakukan oleh orang Jawa sebelum memutuskan untuk melakukan pernikahan. Weton jodoh ini untuk melihat kecocokan kedua mempelai yang akan menikah. Bisa jadi cocok, bahkan bisa juga ada weton yang tidak menunjukkan kecocokan keduanya. Jika ada ketidakcocokan yang terlihat ketika weton jodoh, diharapkan kedua calon mempelai tidak menikah.

Larangan Rumah Kedua Mempelai Berhadapan

Mitos pernikahan Jawa berikutnya adalah adanya larangan calon mempelai yang akan menikah tidak boleh rumahnya berhadapan. Nah kalau kedua mempelai tetap memutuskan untuk mengabaikan larangan tersebut dan menikah, tentu ada akibatnya. Masyarakat Jawa percaya bahwa malapetaka dan musibah akan menimpa kehidupan pernikahan mereka kelak. Wah seram juga ya!

Namun ada solusi untuk menghindari malapetaka tersebut. Salah satu mempelai harus merenovasi rumahnya hingga tidak berhadapan, lebih baik jika pindah rumah. Ada juga yang mengatakan kalau salah satu mempelai dibuang keluarganya dan tinggal di tempat lain yang tidak berhadapan. Jika sudah begitu baru boleh menikah. Mitos pernikahan Jawa ini banyak dipercayai oleh masyarakat di daerah Jawa Timur.

pengantin wanita jawa

Baca juga,

 4 Pertimbangan Sebelum Membeli Rumah Pertama

Larangan Rumah Menghadap Timur

Tidak hanya mitos sebelum atau saat pernikahan saja lho. Bagi kalian yang sudah menikah dan sedang mencari rumah baru sebaiknya ketahui mitos Jawa yang satu ini. Masyarakat Jawa memiliki mitos bahwa rumah tidak boleh menghadap ke arah Timur. Kenapa? Hal ini dipercaya bahwa makhluk halus senang singgah ke rumah yang menghadap ke arah Timur. Jadi sebelum membeli atau membangun rumah, masyarakat Jawa selalu menghindari menghadap ke Timur.  Selain itu juga hal ini juga sudah ada sejak jaman leluhur dan merupakan aturan yang tidak boleh dilanggar.

Itu dia mitos pernikahan Jawa yang hingga kini masih dipertahankan dan dilakukan. Percaya atau tidaknya kembali kepada masing-masing dan bagaimana keputusan kedua mempelai dan keluarga. Kita hanya perlu mengambil makna dan maksud baik dari mitos tersebut.

Apalagi untuk urusan dokumentasi pernikahan, percayakan momen pernikahan kalian kepada Alienco ya! Semoga artikel ini bermanfaat! Bagi kalian yang mungkin mengetahui mitos pernikahan Jawa lainnya yang mungkin terlewat boleh banget berbagi di kolom komentar 🙂 ditunggu ya!

Halo! Klik dibawah ini untuk melakukan chat via WhatsApp dengan Renny.

Chat dengan kami via WhatsApp